BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Keadaan lingkungan Pantai Bama yang eksotik dan mempunyai daya tarik tersendiri bagi para pengunjung memberikan motivasi bagi kami untuk mengetahui lebih banyak tentang ekosistem Pantai Bama Baluran Banyuwangi. Ekosistem di Pantai Bama memiliki komponen biotic (hayati) dan komponen abiotik (lingkungan) yang khas. Kekhasan tersebut perlu dipelihara oleh para pengunjung dengan etika lingkungan agar keseimbangan ekosistem di Pantai Bama tetap terpelihara.
Ekosistem Pantai Bama perlu dikelola dengan upaya terpadu dalam pemanfaatan, penataan, pemeliharaan, pengawasan, pengendalian, pemulihan, dan pengembangan lingkungan hidup. Keseimbangan ekosistem dapat terganggu bila terjadi perubahan lingkungan yang menyebabkan adanya pengurangan fungsi komponen atau hilangnya sebagian komponen ekosistem yang dapat menyebabkan putusnya mata rantai ekosistem.
Ekosistem Pantai Bama meliputi hutan mangrove, terumbu karang, pasir, dan berbagai macam hewan laut dan tumbuhannya.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa saja ekosistem yang ada di Pantai Bama?
2. Bagaimana kehidupan ekosistem di Pantai Bama?
1.3 Batasan Masalah
Dalam karya tulis ini pembahasan hanya dibataskan pada:
1. Ekosistem pantai Bama yang meliputi hutan mangrove, terumbu karang, pasir dan berbagai macam hewan laut dan tumbuhannya.
1.4 Tujuan Pengamatan
1. Untuk mengetahui kehidupan hewan pasang surut.
2. Untuk mengetahui kehidupan tumbuhan pasang surut.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Ekosistem dan Kehidupan Ekosistem di Pantai Bama
Ekosistem di pantai Bama meliputi hutan mangrove, terumbu karang dan berbagai macam hewan laut.
1. Hutan Mangrove
Di pantai Bama terdapat 12 jenis mangrove yang terdiri atas 10 marga dan 8 suku. Dari sekian jenis mangrove Rhizophora apiculata merupakan jenis yang menyebar dengan frekuensi kehadiran 100%. Sedangkan Bruguiera gymnorrhiza dan Rhizophora stylosa menyebar dengan frekuensi kehadiran 80% dan yang menyebar dengan frekuensi kehadiran dibawah 50% adalah Aegiceras corniculatum, A. floridum, Bruguiera zexangula, Ceriops decandra, C. tagal, Dolichandrone spathacea, Excoecaria agallocha, Heritiera littoralis, Lumnitzera racemosa, Rhizophora mucronata, Sonneratia caseolaris dan Xylocarpus granatum.
Vegetasi penyusun hutan mangrove di pantai Bama cukup beragam, akan tetapi R. apiculata tetap merupakan jenis yang dominan semua tegakan.
2. Terumbu Karang
Terumbu karang yang mempunyai bentuk bercabang, pipih seperti kipas, ataupun menyerupai kelopak bunga sesungguhnya merupakan tempat hidup koloni hewan dan tumbuhan karang. Tipe terumbu karang yang ada di sepanjang pantai Taman Nasional Baluran adalah karang tepi, memiliki lebar yang beragam dan berada pada kisaran kedalaman 0,5 meter sampai 40 meter. Zonasi terumbu karang di perairan Taman Nasional Baluran diawali dari:
a. Dataran terumbu karang, berada pada kedalaman 0,5 meter sampai 3 meter dan didominasi oleh karang yang ukurannya kecil. Puncak terumbu karang, didominasi oleh jenis karang keras (hard coral).
b. Lereng terumbu. Zona ini sangat berpotensi karena hampir semua jenis karang dan ikan hias yang ada di perairan Taman Nasional Baluran dapat dijumpai di bagian ini.
c. Daerah tubir merupakan daerah yang sangat menarik untuk kegiatan wisata alam bahari karena dipenuhi oleh jenis karang lunak (soft coral) dan jenis ikan yang bergerak secara berkelompok, sehingga menjadi atraksi alam bawah air yang mempesona.
Terumbu karang mempunyai fungsi fisik sebagai pelindung pantai dari pengikisan air laut (abrasi), fungsi ekologi bagi kelangsungan hidup berbagai jenis ikan dan biota laut lainnya, serta fungsi ekonomi khususnya bagi penduduk pantai (nelayan) dan dapat dikembangkan untuk dimanfaatkan sebagai objek wisata alam bahari.
Kawasan perairan Taman Nasional Baluran memiliki sekitar 145 jenis karang, antara lain:
• Suku ACROPORIDAE ada 42 jenis, misalnya Montipora aequitubercula, Montipora digiata, Montipora informis, Acropora palifera, Acropora austera.
• Suku FUNGIDAE ada 10 jenis, antara lain Helio fungiactiniformis, Fungia fungites, Fungia scabra, Fungia valida.
• Suku PORITIDAE ada 13 jenis, antara lain Porites sylindrica, Porites lichen, Porites lobata, Politus rus, Goniopora columna, Alveopora spongiosa.
• Suku MILLEPOEIDAE ada 2 jenis, yaitu Melliopora tenella dan Melliopora platyphyllia. Khusus untuk jenis ini hanya bisa dijumpai di Tanjung Bilik Timur.
• Suku HELIOPORIDAE di Taman Nasional Baluran hanya ada satu jenis, yaitu Heliopora coerulea. Jenis ini mendominasi daerah Bilik Timur. Penyebarannya cukup merata pada semua wilayah yang memiliki penutupan karang hidup. Heliopora coerulea atau karang biru (blue coral) mempunyai bentuk pipih yang menyerupai kelopak bunga, tampak luar putih tetapi bila terluka atau dipatahkan sedikit dari ujungnya, akan tampak berwarna biru sehingga karang ini disebut karang biru.
3. Hewan Laut
Hewan laut yang berada di daerah pasang surut pantai Bama kebanayakan adalah moluska. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:
a) Suhu
Daerah pasang surut biasanya dipengaruhi oleh suhu udara selama periode yang berbeda-beda dan suhu ini mempunyai kisaran yang luas, baik secara harian maupun musiman. Kisaran ini dapat melebihi batas toleran organism laut. Jika pasang turun terjadi ketika suhu udara minimum (daerah sedang dingin) atau ketika suhu udara maksimum (tropik), batas letal dapat terlampaui dan organisme dapat mati karena kehabisan air, dan kehabisan air dapat dipercepat dengan meningkatnya suhu.
b) Gerakan Ombak
Di daerah pasang surut, gerakan ombak mempunyai pengaruh yang terbesar terhadap organism dan komunitas dibandingkan dengan daerah laut lainnya. Aktivitas ombak mempengaruhi kehidupan pantai secara langsung. Pada pantai terdiri dari pasir atau kerikil, kegiatan ombak yang besar dapat membongkar substrat di sekitar sehingga mempengaruhi bentuk zona.
c) Salinitas
Perubahan salinitas yang dapat mempengaruhi organism terjadi di daerah pasang surut terbuka pada saat pasang turun dan kemudian digenangi air atau aliran akibat hujan lebat, akibatnya salinitas garam akan turun. Kenaikan salinitas terjadi jika penguapan sangat tinggi pada siang hari.
d) Faktor-faktor Lain
Faktor lainnya yang berpengaruh bermacam-macam, meliputi pH, persaingan antar organisme dan permangsaan. Persaingan terjadi karena masing-masing individu berusaha untuk mendapatkan nutrisi, sehingga mempengaruhi pola penyebaran individu, demikian pula pemangsaan oleh organisme lain berpengaruh terhadap penyebaran organisme di daearh pasang surut.
BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat
Kegiatan pengamatan dilaksanakan pada tanggal 15 Nopember 2008, berlokasi di Pantai Bama Taman Nasional Baluran Banyuwangi.
3.2 Metode Pengamatan
Metode yang dipergunakan adalah garis berpetak. Jarak antar petak 5 meter dan luas antar petak 2 x 2 persegi.
1. Dengan mempergunakan tali ravia menarik garis tegak lurus pantai.
2. Membuat petak dengan ukuran 2 x 2 m, jarak antar petak 5 m menuju ke laut. Untuk lebih jelasnya melihat gambar di bawah ini.
3. Menghindari gerak langsung atau menginjak tempat yang akan dijadikan petak pengamatan berikutnya.
4. Mencatat keadaan substratnya. Misalnya : daerah kering, berlumpur, berpasir, berbau karang, dsb.
5. Mendokumentasikan jenis organism yang ada pada tiap petak.
6. Menghitung jenis organism yang ada pada tiap petak, bila belum dikenal mengambil dan mencatat deskripsinya secara jelas.
7. Mengambil organism yang paling dominan, kemudian mendokumentasikan.
8. Mencari cirri-ciri organism yang tersebut pada nomor 7, kemudian mengklasifikasikan.
3.3 Alat dan Bahan
1. Tali ravia 50 meter
2. Patok kayu 12 buah
3. Alat tulis
4. Literature
5. Kamera
Tidak ada komentar:
Posting Komentar