28 Maret 2010

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEHAMILAN

I. FAKTOR FISIK
A. STATUS KESEHATAN
Status kesehatan ibu hamil dapat mempengaruhi kehamilannya, misalnya adanya penyakit atau keadaan alat kandungan yang mengalami kelainan pada alat reproduksinya, maka akan mempengaruhi kehamilan.
Kelainan alat reproduksi.
1. Septum vagina
2. Varices
3. Kista vagina
4. Kista ovarii, dll
Penyakit yang menyertai kehamilan.
1. Penyakit jantung. Jantung yang normal dapat menyesuaikan diri terhadap segala perubahan sistem jantung dan pembuluh darah yang disebabkan oleh kehamilan, yaitu dorongan diafragma oleh besarnya kehamilan sehingga dapat mengubah posisi jantung dan pembuluh darah sehingga terjadi perubahan dari kerja jantung, karena :
a. Pengaruh peningkatan hormon
b. Terjadi haemodilusi (puncaknya umur kehamilan 28-32 minggu)
c. Kebutuhan janin untuk tumbuh kembang
d. Kembalinya darah segera setelah plasenta lahir
Penyakit jantung dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan, yaitu dalam bentuk :
- dapat terjadi keguguran
- persalinan premature atau BBLR
- kematian perinatal meningkat
- hambatan pertumbuhan dan perkembangan janin baik fisik maupun intelegensi
2. Penyakit Paru-Paru : Ibu hamil dengan tuberkulosis sebaiknya jangan dicampur dengan ibu hamil yang sehat untuk mencegah penularan. Ibu dengan TBC aktif memerlukan pengobatan dalam waktu lama yang dapat mempengaruhi janin dalam kandungannya. Ibu TBC aktif tidak dibenarkan memberikan ASI pada bayinya untuk mencegah penularan.
3. Penyakit asma dalam kehamilan : Penyakit asma yang berat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim melalui gangguan pertukaran O2 dan CO2
4. Penyakit Pneumonia : Ibu hamil dengan penyakit Pneumonia memberikan gejala panas tinggi, gangguan pernafasan, gangguan pertukaran CO2 dan O2, sehingga membayakan pertumbuhan perkembangan janin dalam rahim, sampai dapat terjadi keguguran dan persalinan prematur.
5. Infeksi Rubela pada kehamilan : Infeksi rubela pada kehamilan dapat menimbulkan kelainan bawaan sehingga perlu dilakukan gugur kandungan.
Bentuk cacat bawaan yang ditimbulkan diantaranya :
a. Mata : Katarak, glaukoma dan mikroftalmia
b. Telinga : Tuli
c. Jantung : PDA, ASD, VSD, Stenosis Arteri Pulmonalis
d. Susunan syaraf pusat : Meningoensefalitis, mikrosefali, gangguan intelegensi
e. Keterlambatan pertumbuhan janin, heptomegali, ikterus, kelainan kromosome, trombositopeni dan anemia
6. Hepatitis Infeksiosa : Pengaruh hepatitis terhadap kehamilan bersumber dari gangguan fungsi hati dalam mengatur dan mempertahankan metabolisme tubuh, yang berdampak dalam bentuk keguguran, prematuritas dan kematian janin dalam rahim.
7. Infeksi Gonorrhoe : pengaruh infeksi gonorrhoe terhadap kehamilan praktis tidak ada, tetapi terhadap bayi dapat menimbulkan infeksi mata konjungtivis gonorrhoe neonatorum.

B. NUTRISI
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil dengan benar maka perlu diketahui adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada kehamilan.
a. Perubahan tahap I : Dua minggu setelah konsepsi, telur yang dibuahi akan melekat pada endometrium uterus dan terjadi proliferasi dari sel-sel dengan cepat. Plasenta juga mulai terbentuk. Pada tahap ini belum diperlukan suplementasi nutrisi khusus.
b. Perubahan tahap II : Pada minggu ke 2 sampai minggu ke 8 sebagian organ-organ telah mulai terbentuk seperti jantung, ginjal, paru, hati dan rangka. Dari percobaan binatang, bila pada fase ini terdapat defisiensi vitamin A riboplavin, vitamin B6, vitamin B2 atau asam folat akan terjadi kelainan cacat bawaan. Pada tahap ini diperlukan suplementasi dalam bentuk vitamin dan mineral untuk menghindari terjadinya defisiensi dan cacat bawaan.
c. Perubahan tahap III : Mulai minggu ke 8 sampai lahir terjadi pertumbuhan janin yang cepat, serta terbentuknya cadangan pada ibu untuk mempersiapkan kelahiran dan memproduksi ASI. Pada tahap ini terjadi hyperplasi dan hipertrofi sel-sel dan kecepatannya berbeda untuk masing-masing orang. Oleh karena itu, suplementasi nutrisi sangat diperlukan terutama dalam bentuk kalori dan protein.

Kalori
Berdasrkan angka kecukupan gizi, tambahan kalori untuk wanita hamil + 285 kalori. Untuk meyakinkan agar penggunaan kalori selama kehamilan berlangsung adekuat, masukan energi harus diatas 36 kalori/kg/hari.
Kecukupan yang dianjurkan, sebanyak 40 kalori/kg/hari dalam distribusi yang seimbang yaitu protein + 15 %, lemak + 30% dan karbohidrat + 55%
Protein
Tambahan protein untuk wanita hamil sebesar 9 gram. Kecukupan protein yang dianjurkan untuk wanita Indonesia umur 20-39 tahun dengan berat badan 47 kg sebanyak 41 gram protein sehari atau sekitar 0,8 gram/kg/hari.
Vitamin dan Mineral
- Vitamin A ditambah 50 mg/hari
- Tiamin ditambah 0,2 mg/hari
- Niacin ditambah 2 mg/hari
- Vitamin C ditambah 0,6 mg/hari
- Zat Besi ditambah 2 mg/hari
Peningkatan kebutuhan zat besi untuk pembentukan darah janin dan persediaan ibu masa laktasi sampai 6 bulan sesudah melahirkan, karena ASI tidak mengandung garam besi. Persediaan ibu untuk mengganti darah yang hilang pada waktu persalinan.
Pemberian zat besi dimulai setelah rasa mual dan muntah hilang, satu tablet sehari selama minimal 90 hari. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 60mg) dan asam folat 500 mg. Bila ibu merasa mual, konstipasi atau diare akibat zat besi, dianjurkan meminumnya setelah makan. Sebaikanya tablet zat besi dimakan bersama buah-buahan yang mengandung vitamin C, karena untuk menambah penyerapan. Jangan meminumnya dengan susu, teh atau kopi, karena akan menghambat penyerapan. Sumber zat besi : telur, hati, ginjal dan daging (hewani) dan nabati : kacang-kacangan dan sayur hijau.
Air
Air berfungsi membantu sistem pencernakan makanan dan membantu proses transportasi. Selama hamil terjadi perubahan nutrisi dan cairan pada membrane sel. Air menjaga keseimbangan sel, darah, getah bening dan cairan vital tubuh lainnya. Air juga menjaga keseimbangan suhu tubuh, karena itu dianjurkan minum 6-8 gelas (1500-2000 ml) air, susu dan jus tiap hari.

C. STATUS GIZI
Peningkatan berat badan sangat menentukan kelangsungan hasil akhir kehamilan. Bila ibu hamil kurus atau gemuk sebelum hamil akan menimbulkan resiko pada janin terutama apabila peningkatan atau penurunan sangat menonjol. Bila sangat kurus maka akan melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, namun berat badan bayi dari ibu hamil dengan berat badan normal atau kurus. Sebab-sebab terjadinya penurunan atau peningkatan berat badan yang mencolok, yaitu multipara, edema, hipertensi kehamilan, makan berlebihan. Pada obesitas cenderung terjadi makrosomia dan disproporsi sefalopelviks.

Cara yang dipakai untuk menentukan berat badan menurut tinggi badan adalah menggunakan indeks massa tubuh (IMT) dengan rumus berat badan dibagi tinggi badan pangkat 2. Contoh : Wanita dengan berat badan sebelum hamiln 51 kg dan tinggi badan 1,57 meter, Maka IMTnya : 51/(1,57)²= 20,7. Nilai IMT mempunyai rentang :
19,8-26,6 = Normal
< 19,8 = Underweight
26,6-29,0 = Overweight
>29,0 = Obese
Penambahan berat badan per trimester lebih penting dari pada penambahan berat badan keseluruhan. Pada trimester pertamam peningkatan berat badan hanya sedikit, antara 0,7 sampai 1,4 kg. Pada trimester berikutnya akan terjadi peningkatan berat badan yag dapat dikatakan teratur, yaitu 0,35 – 0,4 kg per minggu.

Skema Malnutrisi pada ibu hamil

Ibu Malnutrisi


Volume darah berkurang


Peningkatan curah jantung tidak adekuat


Penurunan darah plasenta


Penurunan ukuran plasenta --------- Mengurangi transfer nutrisi


Pertumbuhan janin terhambat


D. GAYA HIDUP
1. Subtance Abuse
Subtance : Obat
Abuse : Penyalahgunaan
Menurut Pemerintah,
angka resmi penyalahgunaan NAPZA (Narkotika, Alkohol, Psikotropika, Zat adiktif ) sebesar 0,065 % dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 130.000 orang
Belum diketahui data lengkap mengenai jumlah kaum wanita pengguna NAPZA dan berapa diantaranya yang hamil dan melahirkan.

PATOFISIOLOGI OBAT PADA IBU HAMIL
Banyaknya obat yang masuk dalam sirkulasi janin selain tergantung dari
dosis yang dipakai oleh ibu, juga sangat berpengaruh pada kemampuan obat
menembus membran biologik plasenta

DIAGNOSIS
Diagnosis dini yang tepat dan akurat sangat diperlukan untuk mendapatkan hasil yang optimal. Dari diagnosis ini dapat dilakukan perawatan baik pada ibu maupun pada bayinya.
-Anamnesa
Sebagian besar ibu pengguna NAPZA merahasiakan informasi ini. Rincian mengenai tingkat, jumlah, dan lamanya ketergantungan seringtidak jelas. Bagaimanapun, anamnesa riwayat pemakaian NAPZA pada ibu hamil adalah cara yang paling sederhana dan termudah untuk menunjang diagnosis.
Disini dibutuhkan keahlian dari dokter/bidan untuk mengorek informasi yang jelas dan terinci pada saat anamnesa
- Tes laboratorium
Tehnik dan metode laboratorium untuk mendeteksi penggunaan obat golongan NAPZA telah berkembang dengan pesat. Dewasa ini telah banyak diperkenalkan metoda rapid immunoassay ( enzymatic assay atau radioimmunoassay) untuk tes skrining dan dilanjutkan dengan metoda gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS) sebagai konfirmasi bila hasil tes skrining positif. Walaupun demikian, masih
mungkin terjadi negatif palsu atau positif palsu karena reaksi silang, misalnya
pada codein karena 10 % dari sediaan codein yang dikonsumsi akan dimetabolis menjadi morfin di hati.
Tes laboratorium ini digunakan bila terdapat kecurigaan bahwa pasien (ibu maupun bayinya) terpapar obat-obat golongan NAPZA maupun untuk pemantauan hasil terapi.
Bahan yang sering diperiksa sebagai sample adalah :
Urine
Urin adalah bahan untuk pemeriksaan yang paling mudah didapat dan paling umum digunakan. Obat obatan golongan NAPZA dapat dideteksi hingga beberapa hari setelah persalinan. Dapat ditemukan hanya bila pemakaian obat dilakukan beberapa hari sebelum persalinan, dan dapat bertahan hingga beberapa hari. Dapat digunakan urine dari ibu maupun bayi.

Mekonium
Pemeriksaan mekonium mudah dilakukan dan obat dapat diketemukan hingga sampai 3 hari setelah partus. Ini lebih sensitif dibandingkan urine untuk mendeteksi obat-obat yang termasuk dalam golongan NAPZA dan dapat digunakan dalam periode yang lama daripada tes dengan urine.
Rambut
Rambut adalah yang paling sensitif untuk mendeteksi penggunaan obat yang termasuk dalam golongan NAPZA . Tetapi tes menggunakan rambut sangat jarang dilakukan.
Diperlukan tehnik pengambilan, penampungan, penyimpanan dan perlakuan bahan yang benar agar dapat memperoleh hasil yang memuaskan.
- Terapi
Pada ibu hamil yang terkontaminasi obat golongan NAPZA, terapi yang diberikan tidak hanya semata-mata untuk kepentingan ibu tetapi terutama untuk meminimalisasi efek samping yang buruk dari obat-obatan itu pada janin.
Secara umum ada 3 macam metode detoksifikasi yang dikenal, yaitu :
Abrupt withdrawal treatment
Yaitu metode detoksifikasi dengan cara penghentian total pemakaian obat hingga dapat terjadi gejala putus obat. Tehnik ini tidak dianjurkan pada wanita hamil karena dapat menyebabkan kematian bayi yang dikandungnya.
Gradual withdrawal treatment
Yaitu metode detoksifikasi dengan cara menurunkan dosis obat yang digunakan secara bertahap serta mengurangi ketergantungan obat dengan cara mengganti dengan obat substitusi. Tehnik ini dianjurkan pada wanita hamil. Obat substitusi yang dianjurkan adalah metadon.
Rapid detoksifikasi
Yaitu metode detoksifikasi dengan menggunakan antagonis morphin yang diberikan lewat sonde lambung dan dengan menggunakan anestesi general. Disini fase sakaw dari narkotika dipercepat dan rasa sakit dikurangi dengan penggunaan anestesi . Tehnik ini tidak dianjurkan pada wanita hamil karena dapat menyebabkan kematian bayi yang dikandungnya..
2. Perokok/Alkohol
Hasil penelitian menunjukkan baik perokok aktif maupun pasif hubungannya dengan kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah, yang berdampak pada perkembangan anak. Menurut Makin et al (1991) penelitian pada perkembangan anak umur 6-9 tahun dengan ibu perokok aktif, ibu perokok pasif, dan ibu tanpa rokok ketika hamil, menujukkan anak-anak dengan ibu tanpa rokok lebih baik dalam kemampuan berbicara, berbahasa, intelektual, visual dan perilaku.
3. Kehamilan diluar nikah
Secara psikologis kehamilan diluar nikah menimbulkan masalah, karena
- Rasa malu menghadapi perubahan tubuhnya
- Kurang siap dalam menerima peran sebagai ibu
- Belum bekerja
- Faktor ekonomi
- Faktor sosial
Hal ini sangat memerlukan perhatian khusus sehingga perlu difasilitas dengan :
- Dukungan sosial, keputusan untuk melakukan abortus banyak dipengaruhi oleh orang tua
- Informasi secara profesional dari tenaga kesehatan dalam hal pengetahuan dan masalah perkembangan anak.
- Mencegah resiko adanya tindak kekerasan dari orang tua terhadap anaknya yang mengalami kehamilan diluar nikah
- Bimbingan tentang pencegahan resiko kehamilan dan persalinan
4. Kehamilan yang tidak direncanakan
Dapat berdampak kepada kesehatan mental, baik ibu maupun bapaknya. Kehamilan yang tidak diinginkan akan meningkatkan kecemasan dan depresi kedua orang tuanya. Secara individu cemas dapat mengganggu kehamilannya, seorang ibu yang cemas dapat mengalami abrupsio plasenta. Faktor yang dapat mengurangi efek kecemasan adalah : pengobatan kecemasan, dukungan psikososial dan strategi koping.
Cemas yang berkelanjutan dapat meningkatkan perilaku yang negative misalnya merokok atau minum alkohol.

II. FAKTOR PSIKOLOGIS
A. STRESSOR INTERNAL DAN EXTERNAL
1. Stressor Internal
- Berasal dari wanita itu sendiri
- Merasa sulit menerima hakikat dirinya sebagai wanita harus mengandung sehingga pengalamam belum matang.
- Menyesali sebagai wanita dan merasa tidak adil.
- Anak tidak diharapkan, sehingga mempunyai usaha menggugurkan kandungannya bila usaha tersebut gagal maka ibu merasa cemas atau gelisah akan janin yang akan dilahirkannya nanti mengalami kecacatan.
- Umur tergolong resiko tinggi (>35 tahun)
- Menderita penyakit tertentu
- Pengalamam persalinan yang tidak menyenangkan
2. Stress Eksternal
- Suami
Pengharapan terhadap janis kelamin
Masalah seksual
- Keluarga
Tidak ada dukungan dari suami dan keluarga
- Keadaan sosial ekonomi
Kemampuan untuk biaya perawatan kehamilan dan persalinan
- Relasi buruk dengan ibu
Penyesalan terhadap kehamilan
- Adat istiadat/tradisi

B. SUPORT KELUARGA
- Sebagai seorang calon ibu
Wanita menghayati kehamilan sebagai peristiwa yang :
*Menyenangkan
*Mengasyikkan
*Indah dan memiliki romantika yang khas
*Antisipasi yang tidak menyenangkan
*Dilupakanlah segala kesusahan
- Hubungan yang berarti berupa :
Dukungan keluarga dan suport person
*Ibu hamil dapat membina hubungan yang berarti dengan orang sekitar
*Ibu hamil dapat membantu orang sekitar, menyadari kebutuhan mereka dan mengembangkan cara sehat untuk memenuhinya.
- Relasi ibu hamil dengan ibunya
*Sangat penting dalam psikologi kehamilan
*Memberikan warna pada setiap masalah psikologis
*Jika relasi dengan ibunya tidak menyenangkan/buruk maka ibu hamil tersebut dapat membenci dan menyesali semua sikap ibunya dan mengembangkan sikap penyesalan terhadap kehamilannya, sehingga dapat menumbuhkan perasaan bersalah atau berdosa dan dapat mengganggu kepercayaan diri dan keseimbangan diri.
- Jika relasi sangat melekat dengan identifikasi total dan sama sekali tidak mau lepas dari ikatan psikis sehingga akan timbul sikap acuh tak acuh terhadap kehamilannya.
- Dukungan keluarga
Biasanya berasal dari : ibu kandung, ibu mertua atau suami
- Relasi ibu hamil dan suami
Peranan suami lebih bersifat naluriah
- Suami menunjukkan rasa simpati/rasa bangga terhadap kehamilannya

C. Patner Abuse
Penyebab penyulit kehamilan
- Ibu tidak dicintai suami
- Ibu yang tidak nikah (unmarried mother)
- Ibu yang asusila
Pengaruh psikologi pada ibu
- Menolak segala energi psikis dan positif
- Menolak segala kasih sayang
- Menolak insting keibuan
- Sikap pesimis, benci terhadap kehamilannya
Reaksi faktor psikologis
- Denyut jantung cepat
- Kelelahan mendalam
- Tekanan darah meningkat
- Alergi
Pengaruh pada janin
- Hiperaktif
- Iritable
- Gangguan tidur
- BBLR

III. FAKTOR ADAT ISTIADAT, FASILITAS KESEHTAN DAN EKONOMI
A. Kebiasaan dan adat istidat
- Ada kelompok masyarakat memandang kehamilan
Bagi ekonomi rendah : bahwa wanita hamil tidak produktif
Bagi keluarga kaya : Tidak bisa berjala elegan, tidak bisa memakai baju yang indah dan kehamilan merupakan masa pengasingan untuk sementara waktu.
- Keinginan-keinginan (Ngidam)/Pica
Dari yang mudah sampai dengan yang sulit
- Tasyakuran yang menandai tanda kehidupan (3bulanan dan 7 bulanan)

B. Fasilitas kesehatan
- Pelayanan kesehatan prenatal berfungsi untuk :
Promosi kesehatan, melalui sarana dan aktifitas pendidikan
Melakukan skrining, identifikasi ibu hamil resiko tinggi dan merujuknya jika perlu
Memantau kesehatan
- Penyuluhan kesehatan
Secara individu dan informal/kelompok. Mencakup : Gizi, perawatan selama kehamilan dan tanda bahaya kehamilan
- Skrining (Penapisan)
Untuk mendeteksi resiko mengalami komplikasi
- Pemantauan kesehatan
- Efektifitas pelayanan prenatal

C. Faktor Ekonomi
Wanita hamil
Dari golongan sosio ekonomi rendah tergolong kategori resiko besar dan akan berakibat kurangnya gizi, avitaminosis, dan penyakit menahun.
Taraf kehidupan yang rendah membawa akibat :
- Malnutrisi, berdampak pada ibu dan janin seperti :
Daya than menurun
Badan lemah dan kurang tenaga
Kurang darah
IUGR pada bayi
Prematur
- Pemukiman tidak memenuhi syarat
- Higiene kehamilan ibu tidak dapat dilakukan dengan sempurna
- Emosi yang tidak stabil
- Lingkungan hidup keluarga yang kurang sehat.

25 Maret 2010

diagnosa kehamilan & faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diagnosa kehamilan sangat penting dilakukan oleh seorang bidan atau tenaga kesehatan lainnya, untuk mengetahui semua hal yang terjadi pada masa kehamilan. Diagnosa kehamilan ini juga sangat berguna bagi ibu hamil, karena dengan mengetahui diagnosa kehamilannya, ibu hamil akan lebih baik lagi dalam menjaga kehamilannnya dan dengan diagnosa kehamilan ini bisa meminimalkan resiko buruk yang terjadi pada kehamilan.
Di samping itu, untuk menjaga kehamilan agar tetap terjaga banyak faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan yang harus diperhatikan. Faktor-faktor tersebut meliputi: faktor fisik, faktor psikologis, faktor lingkungan sosial, budaya dan ekonomi. Faktor-faktor inilah yang nantinya akan sangat menentukan perkembangan kehamilan.
1.2 Tujuan Makalah
1. Mengetahui apa saja yang dilakukan dalam diagnosa kehamilan.
2. Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kehamilan.
1.3 Rumusan Masalah
1. Apa saja hal yang dilakukan pada diagnosa kehamilan?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kehamilan?

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Diagnosa Kehamilan
Masa kehamilan dimulai dari konsepsi sampai lahirnya janin adalah kira-kira 280 hari (40 minggu) dan tidak lebih dari 300 hari (43 minggu). Kehamilan dibagi menjadi tiga triwulan, triwulan I dimulai dari konsepsi sampai 12 minggu, triwulan II dari 12 sampai 28 minggu dan triwulan III dari 28 sampai 40 minggu. Diagnosis kehamilan dapat ditegakkan dengan riwayat kesehatan dan pemeriksaan klinis berdasarkan tanda dan gejala kehamilan. Tanda dan Gejala Kehamilan meliputi:
a. Dugaan kehamilan (presumptive)
1. Amenorea
 Berhentinya menstruasi disebabkan oleh kenaikan kadar estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh corpus luteum
 Wanita tidak datang menstruasi 2 bulan berturut-turut. Mempunyai arti penting dalam dugaan kehamilan hanya bila siklus haid sebelumnya berlangsung secara teratur dan spontan.
 Penting diketahui tanggal dari hari pertama mendapat haid terakhir untuk menentukan usia kehamilan dan taksiran partus. Rumus taksiran partus menurut Naegele bila siklus haid sekitar 28 hari adalah tanggal dijumlah 7 sedangkan bulan dikurangi 3.
 Selain kehamilan, amenorea juga dapat terjadi akibat : ketegangan emosional, penyakit menahun, obat-obat opioid dan dopaminergik, penyakit endokrin dan tumor ginekologi tertentu.
2. Nausea (mual) dan emesis (muntah).
 50% diderita oleh ibu hamil, mencapai puncak pada 8 – 12 minggu
 Keluhan semakin berat pada pagi hari (“morning sickness”)
 Derajat keluhan dipengaruhi oleh ketegangan emosi
3. Hiperemesis gravidarum : mual muntah disertai dengan dehidrasi dan ketonuria sehingga mengganggu aktivitas keseharian pasien. Keadaan ini memerlukan perawatan intensif di Rumah Sakit
4. Terapi emesis gravidarum sedang:
 Makan sedikit dan sering
 Dukungan emosional
 Vitamin B6 dosis tinggi dan Vitamin prenatal
 Anti muntah diberikan sebagai pilihan akhir
5. Keluhan mual disebabkan oleh kenaikan kadar hCG dimana pada trimester I kadar hCG dapat mencapai 100 mIU/ml
6. Mastodynia. Payudara terasa nyeri dan kencang disebabkan payudara membesar karena pengaruh hormon estrogen pada ductus mammae dan progesteron pada alveoli.
7. Quickening. Perasaan gerakan janin pada minggu ke 18 atau minggu 20 (primigravida) dan umur 14 atau 16 minggu pada multi gravida. Gerakan janin pertama kali dapat digunakan untuk menentukan umur kehamilan.
8. Miksi. Wanita hamil trimester I dan III sering merasakan sering kencing karena uterus yang gravid mendesak vesica urinaria.
9. Konstipasi. Kesulitan buang air besar karena pengaruh hormone progesteron yang menghambat peristaltik usus dan karena perubahan pola makan.
10. Weight gain. Pertambahan berat badan ibu tidak selalu berbanding lurus dengan pertambahan berat janin. Pertambahan berat badan ibu ada artinya setelah umur 20 minggu.Umumnya pertambahan berat badan normal selama kehamilan adalah 8-14 kg.
11. Fatigue. Perasaan lelah pada ibu hamil sulit diterangkan, namun kerja jantung dirasakan lebih berat pada umur 32 minggu.
12. Nail sign. Umumnya umur 6 minggu wanita hamil mengeluh ujung kuku lunak dan lebih tipis.
13. Mengidam. Ingin makanan atau minuman tertentu. Hal ini terjadi pada bulan-bulan pertama.
14. Sinkope (pingsan). Adanya gangguan sirkulasi ke daerah kepala (sentral) sehingga menyebabkan iskemik susunan saraf pusat.
15. Pigmentasi kulit. Pengaruh hormon kortikosteroid plasenta, sering dijumpai pada muka (chloasma gravidarum), dinding perut (striae gravidarum = suatu perubahan warna seperti jaringan parut), leher dan sekitar payudara (hiperpigmentasi areola mamae, puting susu menonjol, kelenjar montgomery menonjol, pembuluh darah menifes).
16. Epulis. Hipertropi papilla ginggivae (gusi berdarah).
17. Varises. Pemekaran vena-vena, dapat terjadi pada kaki, betis dan vulva. Biasanya dijumpai pada triwulan akhir.
b. Kemungkinan kehamilan (probable)
1. Perut membesar
2. Pigmentasi kulit. Terjadi kira-kira minggu ke-12 atau lebih di daerah pipi, hidung dan dahi akibat pengaruh hormon plasenta yang merangsang melanofor dan kulit. Ini dikenal sebagai kloasma gravidarum.
3. Uterus membesar, sesuai dengan umur kehamilan.
4. Tanda Chadwicks, mukosa vagina berwarna kebiruan karena hipervaskularisasi hormon estrogen.
5. Discharge, lebih banyak dirasakan wanita hamil. Ini pengaruh hormon estrogen dan progesteron.
6. Tanda Goodell, portio teraba melunak.
7. Tanda Hegar, isthmus uteri teraba lebih panjang dan lunak.
8. Tanda Piscaseck, pembesaran dan pelunakan pada tempat implantasi. Biasannya ditemukan saat umur 10 minggu.
9. Teraba ballotement (tanda ada benda mengapung/ melayang dalam cairan), pada umur 16-20 minggu.
10. Kontraksi Braxton Hicks, kontraksi uterus (perut terasa kencang) tetapi tidak disertai rasa nyeri.
11. Leukore. Sekret serviks meningkat karena pengaruh peningkatan hormon progesteron.
12. Epulis (hipertrofi papila gingiva). Sering terjadi pada trimester pertama kehamilan.
13. Perubahan payudara. Payudara menjadi tegang dan membesar karena pengaruh estrogen dan progesteron yang merangsang duktuli dan alveoli payudara. Daerah areola menghitam karena deposit pigmen berlebihan. Terdapat kolostrum pada kehamilan lebih 12 minggu.
14. Pembesaran abdomen. Jelas terlihat setelah kehamilan 14 minggu.
15. Suhu basal meningkat terus 37,2-37,8o C.
16. Perubahan organ-organ dalam pelvik :
 Tanda Chadwick : vagina livid, terjadi pada kehamilan kira-kira 6 minggu.
 Tanda Hegar : segmen bawah uterus lembek pada perabaan.
 Tanda Piscaseck : uterus membesar ke salah satu jurusan.
 Tanda Braxton-Hicks : uterus berkontraksi saat dirangsang. Tanda uterus ini khas pada masa kehamilan.
17. Tes kehamilan :
1. Pemeriksaann hormon korionik gonadotropin (hCG) dalam urin
o Terdapat reaksi silang antara LH dengan β-subunit hCG pada tes kehamilan.
o hCG dihasilkan oleh sinstiotrofoblas sejak hari ke 8 pasca fertilisasi dan terdeteksi pada hari ke 9.
o Puncak kadar hCG urine adalah pada sekitar hari ke 90
o Waktu paruh hCG 1.5 hari.
o Kadar hCG serum dan urine pada situasi normal kembali ke nilai sebelum kehamilan
2. Tes Imunologi
o Tes imunologi dilakukan atas dasar sifat antigen dari polipeptida protein hCG.
o “Testing time” 2 menit sampai dengan 2 jam dan sensitivitas bervariasi antara 250 – 3500 mIU/ml tergantung pada pabrik pembuatan.
o Sebagian besar tes, menunjukkan hasil positif 4 – 7 hari pasca amenorea.
Ketepatan berubah oleh karena :
o Proteinuria yang menyebabkan inaktivasi agglutinasi anti-hCG.
o Penyakit imunologi yang menyebabkan reaksi positif palsu akibat adanya interaksi antara IgM dengan reagen.
o Kadar LH tinggi ( rangsangan pada hipofise anterior atau penggunaan obat penenang) menyebabkan reaksi positif palsu.
o Pasca ooforectomi, menopause, hipotiroidisme atau gagal ginjal dapat menunjukkan hasil positif palsu.
Tabel Pemeriksaan kehamilan secara imunologis
Metode Bahan Hasil Pemeriksaan
Koagulasi langsung Partikel latex yang dilapisi oleh anti hCG + serum atau urine Koagulasi bila terdapat hCG (kehamilan +)
Inhibisi koagulasi Anti hCG + serum atau urine ditambah Eritrosit yang sudah di sensitisasi atau Partikel latex yang dilapisi hCG Koagulasi bila tidak terdapat hCG ( kehamilan – ) ; inhibisi terjadi bila terdapat hCG ( kehamilan + )
3. Pemeriksaan radioimmunoassay hCG
o Radio-immunoassay untuk hCG merupakan tes spesifik dan sensitif.
o Tidak terdapat reaksi silang dengan LH. Secara laboratoris, tes ini dapat mendeteksi kadar serum antara 2 – 4 mIU/ml
4. “Home pregnancy test”
o Merupakan tes imunologi sehingga juga memiliki masalah dalam interpretasi.
o hCG di deteksi melalui urine pertama pada pagi hari. Tes positif ditunjukkan melalui adanya perubahan warna. Bila tes menunjukkan hasil negatif, diulang 2 minggu kemudian atau dilakukan pemeriksaan radioimmunoassay.
c. Diagnosa pasti kehamilan (positive)
1. Detik jantung janin
• Detik jantung janin dapat terdengar dengan menggunakan fetoskop pada ibu yang bertubuh langsing pada kehamilan 17 – 18 minggu.
• Dengan tehnik Doppler, detik jantung janin dapat terdengar pada kehamilan 10 minggu.
2. Palpasi bagian janin
• Bentuk tubuh janin sering dapat diperiksa melalui palpasi abdomen pada kehamilan lebih dari 28 minggu.
• Gerakan janin dapat dirasakan setelah kehamilan 18 minggu
3. Ultrasonografi
• Tehnik ini sangat bermanfaat bagi pemantauan viabilitas janin.
• Aktivitas jantung dapat dilihat pada kehamilan 5 – 6 minggu
• Ekstrimitas janin terlihat pada kehamilan 7 – 8 minggu
• Gerakan jari tangan terlihat pada kehamilan 9 – 10 minggu
2.2 Differential Diagnosa Kehamilan
1. Pseudosiesis. Terdapat amenorea, perut membesar, uterus sebesar biasa, tanda kehamilan negatif.
2. Mioma uteri. Perut membesar, rahim membesar teraba padat kadang berbenjol-benjol, tanda kehamilan negatif, perdarahan banyak saat menstruasi.
3. Kistoma ovarii. Mungkin ada menopause, perut membesar tapi pada periksa dalam uterus sebesar biasa, tanda kehamilan negatif, lamanya pembesaran perut dapat melampaui umur kehamilan.
4. Retensio urine. Uterus sebesar biasa, tanda kehamilan dan reaksi kehamilan negatif.
5. Menopause. Terdapat amenorea, umur wanita kira-kira diatas 43 tahun, uterus sebesar biasa, tanda dan reaksi kehamilan negatif.
6. Hematometra. Terdapat amenorea yang dapat melampaui umur kehamilan, perut terasa sakit setiap bulan, terjadi penumpukan darah dalam rahim, reaksi kehamilan negatif. Hal ini disebabkan oleh himen imperforata.
Tabel Perbandingan Antara Primipara Dan Multipara
Primipara Multipara
Perut Tegang Longgar, terdapat striae
Pusat Menonjol Dapat datar
Rahim Tegang Agak lunak
Payudara Tegang, tegak Menggantung, agak lunak, terdapat striae
Labia bersatu Agak terbuka
Himen Koyak beberapa tempat Karankula himenalis
Vagina Sempit dengan rugae utuh Lebar, rugae berkurang
Serviks Licin, lunak, tertutup Sedikit terbuka, teraba bekas robekan persalinan
Pembukaan Mendatar lalu membuka Membuka dan mendatar
Perineum Masih utuh Bekas luka episiotomi

2.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehamilan
Ada tiga faktor yang mempengaruhi kehamilan, yaitu faktor fisik, faktor psikologis dan faktor sosial budaya dan ekonomi.
1. Faktor fisik, seorang ibu hamil dipengaruhi oleh status kesehatan dan status gizi ibu tersebut. Status kesehatan dapat diketahui dengan memeriksakan diri dan kehamilannya ke pelayanan kesehatan terdekat, puskesmas, rumah bersalin, atau poliklinik kebidanan. Adapun tujuan dari pemeriksaan kehamilan yang disebut dengan Ante Natal Care (ANC) tersebut adalah :
• Memantau kemajuan kehamilan. Dengan demikian kesehatan ibu dan janin pun dapat dipastikan keadaannya.
• Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik dan mental ibu, karena dalam melakukan pemeriksaan kehamilan, petugas kesehatan (bidan atau dokter) akan selalu memberikan saran dan informasi yang sangat berguna bagi ibu dan janinnya
• Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama kehamilan dengan melakukan pemeriksaan pada ibu hamil dan janinnya
• Mempersiapkan ibu agar dapat melahirkan dengan selamat. Dengan mengenali kelainan secara dini, memberikan informasi yang tepat tentang kehamilan dan persalinan pada ibu hamil, maka persalinan diharapkan dapat berjalan dengan lancar, seperti yang diharapkan semua pihak
• Mempersiapkan agar masa nifas berjalan normal. Jika kehamilan dan persalinan dapat berjalan dengan lancar, maka diharapkan masa nifas pun dapar berjalan dengan lancar
• Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima bayi. Bahwa salah satu faktor kesiapan dalam menerima bayi adalah jika ibu dalam keadaan sehat setelah melahirkan tanpa kekurangan suatu apa pun
Karena manfaat memeriksakan kehamilan sangat besar, maka dianjurkan kepada ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya secara rutin di tempat pelayanan kesehatan terdekat. Selain itu status gizi ibu hamil juga merupakan hal yang sangat berpengaruh selama masa kehamilan. Kekurangan gizi tentu saja akan menyebabkan akibat yang buruk bagi si ibu dan janinnya. Ibu dapat menderita anemia, sehingga suplai darah yang mengantarkan oksigen dan makanan pada janinnya akan terhambat, sehingga janin akan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Di lain pihak kelebihan gizi pun ternyata dapat berdampak yang tidak baik juga terhadap ibu dan janin. Janin akan tumbuh besar melebihi berat normal, sehingga ibu akan kesulitan saat proses persalinan.
Yang harus diperhatikan adalah ibu hamil harus banyak mengkonsumsi makanan kaya serat, protein (tidak harus selalu protein hewani seperti daging atau ikan, protein nabati seperti tahu, tempe sangat baik untuk dikonsumsi) banyak minum air putih dan mengurangi garam atau makanan yang terlalu asin.
2. Faktor Psikologis yang turut mempengaruhi kehamilan biasanya terdiri dari :
Stressor. Stress yang terjadi pada ibu hamil dapat mempengaruhi kesehatan ibu dan janin. Janin dapat mengalami keterhambatan perkembangan atau gangguan emosi saat lahir nanti jika stress pada ibu tidak tertangani dengan baik.
Dukungan keluarga juga merupakan andil yang besar dalam menentukan status kesehatan ibu. Jika seluruh keluarga mengharapkan kehamilan, mendukung bahkan memperlihatkan dukungannya dalam berbagai hal, maka ibu hamil akan merasa lebih percaya diri, lebih bahagia dan siap dalam menjalani kehamilan, persalinan dan masa nifas.
Yang terakhir adalah Faktor lingkungan sosial, budaya dan ekonomi. Faktor ini mempengaruhi kehamilan dari segi gaya hidup, adat istiadat, fasilitas kesehatan dan tentu saja ekonomi. Gaya hidup sehat adalah gaya hidup yang digunakan ibu hamil. Seorang ibu hamil sebaiknya tidak merokok, bahkan kalau perlu selalu menghindari asap rokok, kapan dan dimana pun ia berada. Perilaku makan juga harus diperhatikan, terutama yang berhubungan dengan adat istiadat. Jika ada makanan yang dipantang adat padahal baik untuk gizi ibu hamil, maka sebaiknya tetap dikonsumsi. Demikian juga sebaliknya. Yang tak kalah penting adalah personal hygiene. Ibu hamil harus selalu menjaga kebersihan dirinya, mengganti pakaian dalamnya setiap kali terasa lembab, menggunakan bra yang menunjang payudara, dan pakaian yang menyerap keringat.
Ekonomi juga selalu menjadi faktor penentu dalam proses kehamilan yang sehat. Keluarga dengan ekonomi yang cukup dapat memeriksakan kehamilannya secara rutin, merencanakan persalinan di tenaga kesehatan dan melakukan persiapan lainnya dengan baik. Namun dengan adanya perencanaan yang baik sejak awal, membuat tabungan bersalin, maka kehamilan dan proses persalinan dapat berjalan dengan baik.
Yang patut diperhatikan adalah bahwa kehamilan bukanlah suatu keadaan patologis yang berbahaya. Kehamilan merupakan proses fisiologis yang akan dialami oleh wanita usia subur yang telah berhubungan seksual. Dengan demikian kehamilan harus disambut dan dipersiapkan sedemikian rupa agar dapat dilalui dengan aman.

BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
1. Diagnosis kehamilan dapat ditegakkan dengan riwayat kesehatan dan pemeriksaan klinis berdasarkan tanda dan gejala kehamilan. Tanda dan Gejala Kehamilan meliputi: Dugaan kehamilan (presumptive), Kemungkinan kehamilan (probable), dan Diagnosa pasti kehamilan (positive).
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan adalah fisik, psikologis, lingkungan sosial, budaya dan ekonomi.
3.2 Saran
Untuk mengetahui pasti kehamilan terjadi disarankan untuk melakukan diagnosa kehamilan, agar kedepannya tidak terjadi resiko yang tidak diinginkan terjadi. Dan pada saat kehamilan hendaknya memperhatikan betul faktor-faktor yang mempengaruhi kehamilan seperti yang telah disebutkan diatas, agar kehamilan dapat selalu terjaga dengan baik.

makalah siklus asam sitrat

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Siklus asam sitrat atau yang disebut juga dengan siklus asam trikarboksilat (tricarboxylic acid cycle = TCA cycle) atau siklus krebs, berlangsung di dalam mitokondria. Siklus asam sitrat merupakan jalur bersama oksidasi karbohidrat, lipid dan protein.
Siklus asam sitrat merupakan rangkaian reaksi yang menyebabkan katabolisme asetil KoA, dengan membebaskan sejumlah ekuivalen hidrogen yang pada oksidasi menyebabkan pelepasan dan penangkapan sebagaian besar energi yang tersedia dari bahan bakar jaringan, dalam bentuk ATP. Residu asetil ini berada dalam bentuk asetil-KoA (CH3-CO~KoA, asetat aktif), suatu ester koenzim A. Ko-A mengandung vitamin asam pantotenat.
Fungsi utama siklus asam sitrat adalah sebagai lintasan akhir bersama untuk oksidasi karbohidrat, lipid dan protein. Hal ini terjadi karena glukosa, asam lemak dan banyak asam amino dimetabolisir menjadi asetil KoA atau intermediat yang ada dalam siklus tersebut.
Selama proses oksidasi asetil KoA di dalam siklus, akan terbentuk ekuivalen pereduksi dalam bentuk hidrogen atau elektron sebagai hasil kegiatan enzim dehidrogenase spesifik. Unsur ekuivalen pereduksi ini kemudian memasuki rantai respirasi tepat sejumlah besar ATP dihasilkan dalam proses fosforilasi oksidatif. Pada keadaan tanpa oksigen (anoksia) atau kekurangan oksigen (hipoksia) terjadi hambatan total pada siklus tersebut.
Enzim-enzim siklus asam sitrat terletak di dalam matriks mitokondria, baik dalam bentuk bebas ataupun melekat pada permukaan dalam membran interna mitokondria sehingga memfasilitasi pemindahan unsur ekuivalen pereduksi ke enzim terdekat pada rantai respirasi, yang bertempat di dalam membran interna mitokondria.
1.2 Tujuan Makalah
1. Untuk mengetahui proses berlangsungnya siklus asam sitrat.
2. Untuk mengetahui fungsi utama siklus asam sitrat.
3. Untuk mengetahui faktor penghambat siklus asam sitrat.
1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana tahapan-tahapan terjadinya siklus asam sitrat?
2. Apa saja fungsi utama dari siklus asam sitrat?
3. Apa faktor penghambat siklus asam sitrat?

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Tahapan Siklus Asam Sitrat
 Tahap 1 Sitrat sintase
Asetil KoA + oksaloasetat + H2O sitrat + KoA-SH. Merupakan reaksi kondensasi aldol yang disertai hidrolisis dan berjalan searah
 Tahap 2
Sitrat diubah menjadi isositrat oleh enzim akonitase yang mengandung Fe++ caranya: mula-mula terjadi dehidrasi menjadi cis-akonitat (yang tetap terikat enzim) kemudian terjadi rehidrasi menjadi isositrat
 Tahap 3
Isositrat dioksidasi menjadi oksalosuksinat (terikat enzim) oleh isositrat dehidrogenase yang memerlukan NAD+. Reaksi ini diikuti dekarboksilasi oleh enzim yang sama menjadi α-ketoglutarat. Enzim ini memerlukan Mn++ atau Mg++
• Ada 3 jenis isozim isositrat dehidrogenase :
- satu jenis isozim menggunakan NAD+ isozim ini hanya ditemukan di dalam mitokondria NADH + H+ yang terbentuk akan diteruskan dalam rantai respirasi
- dua jenis isozim yang lain menggunakan NADP+ dan ditemukan dalam mitokondria dan sitosol
 Tahap 4
Dekarboksilasi oksidatif α-ketoglutarat (caranya seperti pada dekarboksilasi oksidatif piruvat) menjadi suksinil KoA oleh enzim α-ketoglutarat dehidrogenase kompleks. Enzim ini memerlukan kofaktor seperti: TPP, Lipoat, NAD+, FAD dan KoA-SH. Reaksi ini secara fisiologis berjalan searah. Reaksi ini dapat dihambat oleh arsenit mengakibatkan akumulasi atau penumpukan α-ketoglutarat.
 Tahap 5 Suksinat thikonase
Suksinil KoA Suksinat. Reaksi ini memerlukan ADP atau GDP yang dengan Pi akan membentuk ATP atau GTP. Juga memerlukan Mg++. Reaksi ini merupakan satu-satunya dalam siklus asam sitrat yang membentuk senyawa fosfat berenergi tinggi pada tingkat substrat. Pada jaringan dimana glukoneogenesis terjadi (hati dan ginjal) terdapat 2 jenis isozim suksinat thiokonase, satu jenis spesifik GDP, satu jenis untuk ADP. Pada jaringan nonglukoneogenik hanya ada isozim yang menggunakan ADP
 Tahap 6 Suksinat dehidrogenase
Suksinat + FAD Fumarat + FADH2. Reaksi ini tidak lewat NAD, dihambat oleh malonat
 Tahap 7 Fumarase
Fumarat + H2O L-Malat
 Tahap 8 Malat dehidrogenase
L-Malat + NAD+ Oksaloasetat + NADH + H+. Reaksi ini membentuk kembali oksaloasetat
Jadi semua tahapan siklus asam sitrat menghasilkan reaksi total :
Asetil KoA + 3NAD+ + FAD + ADP (atau GDP) + Pi + H2O 2CO2 + KoA-SH + 3 NADH + 3 H+ + FADH2 + ATP (atau GTP) atau dengan gambar seperti di bawah ini:

Penjelasan:
1. Reaksi Dehidroginase, menggunakan NAD+ 3 ATP, yang menggunakan FAD (tidak lewat NAD+) 2 ATP
2. Suksinat thikonase : 1 ATP atau 1 GTP
3. Reaksi yang menghasilkan CO2 (dekarboksilasi oksidatif): reaksi yang dikatalisis oleh isositrat dehidrogenase dan α-ketoglutarat dehidrogenase kompleks
4. Vitamin B yang berperan pada siklus asam sitrat sebagai bentuk koenzimnya: Thiamin TPP, Niacin NAD, Riboflavin FAD, Asam pantotenat KoA
Jumlah energi yang terbentuk dari Siklus Asam Sitrat:
1. Oksidasi 1 mol asetil KoA lewat siklus asam sitrat menghasilkan :
- 3 mol (NADH + H+) yang akan masuk rantai respirasi menghasilkan 3 x 3 mol ATP = 9 mol ATP
- 1 mol FADH2 yang akan masuk rantai respirasi menghasilkan 2 mol ATP
- Enzim suksinat thiokinase menghasilkan 1 mol ATP ( atau GTP )
2. Jadi dari 1 mol asetil KoA dihasilkan 12 mol senyawa fosfat berenergi tinggi
2.2 Fungsi Utama Siklus Asam Sitrat
1. Oksidasi asetil KoA menjadi CO2, H2O dan energy (1 mol asetil KoA menghasilkan 12 mol ATP oleh karena daur ini banyak melepas H+ dan elektron yg akan masuk rantai respirasi)
2. Anggota siklus asam sitrat bersifat amfibolik, artinya: dapat dioksidasi lebih lanjut menjadi energi, atau disintesis menjadi senyawa lain.
Dapat dioksidasi lebih lanjut menjadi energi, contohnya:
- katabolisme asam amino anggota siklus asam sitrat energi
- oksidasi beta asam lemak asetil KoA
- anggota siklus krebs energi
- oksidasi glukosa piruvat asetil KoA anggota siklus krebs energi
Dapat disintesis menjadi senyawa lain, misalnya menjadi :
- glukosa (melalui glukoneogenesis)
- asam amino tertentu
- asam lemak (lipogenesis)
2.3 Faktor penghambat Siklus Asam Sitrat
Fluoroasetat, dengan KoA-SH membentuk fluoroasetil-KoA. Fluoroasetil-KoA berkondensasi dengan oksaloasetat membentuk fluorositrat (dikatalisis oleh sitrat sintase). Fluorositrat menghambat akonitase terjadi akumulasi sitrat. Fluoroasetat didapatkan misalnya pada pestisida
• Malonat : menghambat suksinat dehidrogenase
• Arsenit : menghambat α-ketoglutarat dehidrogenase kompleks

BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
1. Siklus asam sitrat merupakan lintasan akhir bagi oksidasi karbohidrat, lipid dan protein. Siklus ini mengkatalisasikan kombinasi metabolit utamya asetil ko-A dengan oksaloasetat untuk membentuk sitrat. Melalui serangkaian reaksi dehidroginase dan dekarboksilasi, sitrat akan teruarai dengan melepaskan unsur-unsur ekuivalen pereduksi serta 2CO2 dan kembali menghasilkan kembali oksaloasetat.
2. Siklus asam sitrat bersifat amfibolik karena memiliki peranan metabolik lainnya disamping oksidasi. Siklus ini mengambil bagian dalam proses glukoneogenesis, transminasi, deaminasi dan sintesis asam lemak.
3. Fluoroasetat merupakan faktor penghambat dari siklus asam sitrat.

3.2 Saran
Seharusnya kita lebih banyak lagi mempelajari tentang siklus asam sitrat, agar kita bisa tahu lebih banyak lagi tentang teori-teori siklus asam sitrat ini.

puisi

WAKIL RAKYAT

Namamu melambung sebagai pejabat tinggi negara
Jabatanmu tinggi menyalurkan aspirasi rakyat
Sang rakyat memberi amanat tinggi untukmu
Wakil rakyat kumpulan orang yang hebat
Berseragam safari selalu mencari inspirasi
Tapi kini…..
Kau menodai namamu sendiri
Korup ambil bagian dari jiwamu
Meneguk kekecewaan sang rakyat
Jangan hanya bisa KKN
Lihat kami disini
Lalu dengar kami disini rakyat kecil sedang merintih
Pedulilah sedikit pada kami rakyat jelata
Jangan biarkan saja kau sendiri yang kenyang
Bekerjalah dengan baik hingga rakyatmu sejahtera
Wahai Wakil Rakyat……….
Indonesia kan jaya
Ditanganmu, tanganku, tangan kita bersama
Mari kita hapus korupsi, kolusi dan nepotisme
Dari tanah air pusaka kita tercinta
Ingat Wakil Rakyat
Ini bukan kritik
Tapi ini salah satu suara dari siswa SMA

Efek Hubungan Lawan Jenis Terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Siswa.

BAB 1
PENDAHALUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Seiring berjalannya arus modernisasi budaya barat yang masuk ke wilayah Indonesia, pada saat itulah moral generasi bangsa mulai terjajah. Dimisalkan seperti gasing yang berputar, tengah gasing yang berputar adalah arusnya. Apabila kita sudah terseret dalam arus tersebut maka akan sulit untuk keluar dari putaran tersebut. Orang yang rentan masuk dalam putaran gasing tersebut sangat banyak terutama kalangan remaja yang rata-rata masih duduk di bangku SMA. Hal ini disebabkan oleh dasar pendidikan para remaja tersebut tidak terdidik dengan baik pada usia dini hingga beranjak dewasa. Penyebab pula yang tidak kalah pentingnya adalah kemajuan teknologi yang seringkali disalahgunakan oleh remaja atau penangkapan informasi yang salah dari media cetak maupun dari media elektronik.
Seperti program sinetron di televisi setiap episodenya pasti ada saja adegan pacaran. Sehingga di zaman sekarang ini pacaran bagi anak usia remaja pacaran merupakan suatu hal yang lazim dan tidak tabu lagi diperbincangkan di kalangan umum. Ini merupakan suatu contoh bahwa life style dalam sinetron menjadi panutan bagi kaum remaja saat ini.
Pacaran atau kedekatan istimewa antar lawan jenis jelas memiliki banayak efek baik positif dan negatif. Apabila seorang remaja sudah terlena dengan yang namanya pacaran dan tidak menghiraukan batasan-batasan sakralnya, maka secara langsung moralnya akan buruk. Namun jika kedekatan antar lawan jenis ini diartikan secara baik, seperti misalnya sebagai meningkatkan motivasi belajar dan tidak ke arah yang lebih negatif maka menurut pandangan Islampun kedekatan seperti itu diperbolehkan.
Suatu kasus pernah ada di kalangan SMAN I Kraksaan seorang anak yang sangat pintar dan berprestasi di buktikan dengan semester 1 kemarin yang sekarang dia duduk di bangku kelas XII. Dia seorang remaja laki-laki yang di kenal pula di sekolah sebagai anak yang sering berpacaran. Dari situ kita bisa tahu bahwa kedekatan yang dia lakukan di satu sisi dapat meningkatkan motivasi belajar karena terdorongnya rasa ingin menjadi anak yang lebih maju dari sebelumnya dan ingin pula membanggakan pacarnya tersebut. Pacaran seperti inilah yang sebaiknya ditiru oleh para remaja pada zaman sekarang ini.
Maka dari itu, penulis mengangkat judul “Efek Kedekatan Lawan Jenis Terhadap Prestasi Belajar Siswa” dan disini kami akan berusaha untuk menjelaskan bagaimana seharusnya para remaja generasi bangsa ini menyikapi suatu hal yang sudah dianggap lazim seperti, pacaran dengan baik agar tidak keluar batas malah kita sebagai penulis ingin membantu memberikan tuntunan cara berpacaran menurut etika Islam yang baik.

1.2 Rumusan Masalah
Sesuai dengan latar belakang masalah dan masalah yang timbul maka masalah yang dikaji dalam studi ini dirumuskan sebagai berikut:
1.2.1 Bagaimana cara mengurangi resiko kerusakan moral akibat pacaran?
1.2.2 Apa dampak positif dan negatif dari pacaran?
1.2.3 Adakah pengaruh pacaran pada motivasi belajar siswa?
1.2.4 Bagaimana pacaran menurut pandangan Islam?

1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini diantaranya:
1.3.1 Mengurangi kerusakan moral akibat pacaran.
1.3.2 Mengetahui dampak positif dan negatif dari pacaran.
1.3.3 Mendapatkan bukti pengaruh pacaran terhadap motivasi belajar siswa
sekolah SMA.
1.3.4 Mengetahui pandanagn Islam terhadap pacaran.

1.4 Hipotesa dan Asumsi Penelitian
1.4.1 Adapun hipotesa yang dikemukakan dalam penelitian adalah:
“Pada umumnya gaya pacaran siswa sekolah menjurus pada kerusakan
moral”.
1.4.2 Hipotesa di atas berdasarkan asumsi sebagai berikut:
1.4.2.1 Adanya kesalahan penggunaan dan penyampaian yang
mempengaruhi gaya pacaran siswa sekolah sehingga menjurus pada
kerusakan moral.

1.5 Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini kami bedakan menjadi dua, yaitu:
1.5.1 Manfaat Khusus
Manfaat khusus dari penelitian ini kami tujukan bagi remaja sebagai generasi bangsa saat ini, orang tua dab guru di sekolah sebagai penuntun masa depan para remaja dan penulis. Bagi para remaja manfaat penelitian ini agar remaja lebih mengetahui batasan-batasan dalam pacaran sehingga pacaran dapat pula dijadikan sebagai motivasi belajar. Dan manfaat lain penelitian ini bagi remaja agar mereka mendapatkan pandangan moral yang baik dalam masyarakat.
Bagi para orang tua dan guru pula khususnya manfaat penelitian ini dapat dijadikan sebagai pedoman pandangan untuk memahami pacaran bukan hanya selalu berdampak negatif bagi para remaja. Dan untuk penulis, penelitian ini bermanfaat sebagai pengetahuan tambahan untuk dapat menghadapi masyarakat di era modern ini dengan tetap berpegang pada moral pendidikan yang baik.
1.5.2 Manfaat Umum
Manfaat umum penelitian ini kami tujukan bagi seluruh anggota masyarakat, agar anggota masyarakat tidak memandang sebelah mata anggotanya yang “berpacaran” atau melakukan hubungan kedekatan lawan jenis sebagai suatu hal yang selalu berdampak negatif.

1.6 Metoda dan Teknik Penelitian
Metoda penelitian yang digunakan adalah metoda deskriptif. Digunakannya metoda ini adalah karena masalah yang diteliti sedang berlaku dan bersifat aktual.
Menurut Winarno Surachmad, metoda deskriptif tertuju pada pemecahan masalah yang ada pada masa sekarang ini. Karena banyak sekali ragam penyelidikan deskriptif lebih merupakan istilah umumyang mencakup sebagai teknik deskriptif dengan ciri-ciri sebagai berikut:
1. memusatkan diri pada masalah-masalah yang ada pada masa sekarang atau yang aktual.
2. data yang dikumpulkan disusun, dijelaskan dan dianalisa disebut juga metoda ilmiah analisa.
Sedangkan teknik penelitian yang dipergunakan ialah:
1.6.1 Teknik Observasi
Teknik ini digunakan untuk meninjau langsung ke tempat penelitian sebagai pengamatan dari masalah yang timbul.

1.6.2 Teknik Angket
Teknik ini terdiri dari pertanyaan yang diajukan kepada subyek yang berkepentingan sebagai data primer sesuai dengan permasalahan yang ada.

1.6.3 Teknik Wawancara
Teknik ini digunakan untuk memperoleh data secara langsung dari responden sebagai pelengkap yang menunjang proses penelitian ini.


1.6.4 Teknik Kepustakaan
Teknik ini digunakan sebagai kajian pustaka dalam penelitian ini baik berupa fakta, definisi, sebagai dasar dalam menjelaskan permasalahan yang ada.

BAB 2
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Remaja Korban Mode Jahiliyah
Hubungan istimewa antar jenis atau yang sering dikenal dengan pacaran adalah pertemuan rutin dengan kekasih untuk menumpahkan segala hasrat dengan berbagai bumbu tertenu seperti berpegangan tangan, saling pandang, bergandengan, ciuman, berpelukan, bahkan hingga hubungan seksual maka hal seperti ini bukan lagi disebut pacaran dalam arti asal, melainkan upaya penanaman mental free sex. Ini jelas lebih terlarang. Ini juga merupakan suatu mode modern jahiliyah dalam bentuk pacaran yang terlewat vulgar.
Mengapa dikatakan upaya penanaman free sex? Karena cara-cara seperti itu telah menjurus pada pelampiasan nafsu seks di luar nikah. Sedangkan pernikahan itu sendiri sebenarnya belum tentu terjadi dengan orang yang pernah memacarinya. Bahkan justru kebanayakan mereka yang berpacaran dengan gaya seperti itu, ternyata tidak jadi nikah dan cintanya terputus di tengah jalan.
Rasullallah saw. Besabda:
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Katanya: Nabi saw. Bersabda: Allah swt. Telah mencatat bahwa anak Adam cenderung terhadap perbuatan zina. Keinginan tersebut tidak dapat dielakkan lagi, dimana dia akan melakukan zina mulut dalam bentuk pertuturan, zina perasaan yaitu bercita-cita dan berkeinginan mendapatkannya hingga kemaluan ikut memastikan perzinaan itu.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud dan Ahmad)
Pacaran dengan gaya seperti itu bisa juga diartikan upaya pengikisan nilai cinta. Dua sejoli yang terlalu sering dan dalam setiap pertemuan terlalu sering dan dalam dalam setiap pertemuan terlalu lama berdua-duan, lambat laun rasa cintanya akan kendur, jika tidak segera melangsungkan pernikahan akan ada perasaan bosan sebagai cerminan rasa cintanya mulai krisis. Jika rasa cintanya mulai krisis atau tipis, berarti ia mulai tidak mencintai gadis itu. Dalam keadaan seperti itu dilansungkan pernikahannya tidak lama (bercerai) atau sekalipun langgeng, namun selalu disertai berbagai masalah ketidakcocokan sebagi cermin kebosanan kepada pasangannya.
Semakin lama pacaran akan semakin banyak masalah yang dihadapi. Sebaliknya semakin cepat seseorang menikah (tanpa pacaran), maka akan selamatlah ia. Meneyelesaikan berabgai perbedaan dalam pernikahan (rumah tangga) bernilai ibadah dan insya Allah mendapat penyelesaian yang saling menguntungkan dan terhormat.
Di era modern ini dengan segala propagandanya telah meluluhlantakan nilai-nilai moral di Indonesia. Remaja digiring pada nilai-nilai materialisme yang menjunjung tinggi hedoiseme tapna melibatkan nilai-nilai agama. Akibatnya muncul euforia sekularis yakni tergila-gila pada materi dan menjadikan uang sebagai Tuhan. Saban hari remaja di Indonesia bahkan di seluruh dunia histeris memuja –muja sosok hedois (artis) yang sudah menjelma menjadi nabi. Kehidupan glamour artis-arti itu telah memberikan inspirasi bahwa materi adalah segala-galanya. Artis adalah simbol kesejahteraan, kebahagian dan sumber rujuka moral. Status sosial mereka di mata remaja begitu tinggi.
“Biarakanlah mereka (di dunia ini) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui (akibat pernuatan mereka).” (QS. Al-Hijr:3).
Di sisi lain kita melihat remaja yang memaksakan diri bergaya ala artis. Seperti contoh pacaran yang terlalu vulgar yang sering dipertontonkan pada masyarakat luas melalui prpgram-program televisi dan ini yang menjadi salah satu penyebab utama kemerosotan moral pada generasi penerus bangsa saat ini. Atau hedois ini dianut oleh remaja maka tidak lama akan lahir generasi instan, yaitu generasi yang tidak memiliki kepudulian terhadap moral. Yang mereka pikirkan adalah kenikmatan sesaat walaupun harus merugikan orang lain.
Dalam kondisi seperti itu, remaja memerlukan “subyek moral” orang dewasa yang dikaguminya. Anak remaja cenderung mengidentifikasi orang dewasa dalam berbagai hal yang dikaguminya seperti cara berpakaian, cara bergaul, sikap, sifat, dan dan cara berpikir instan.
Maka peran orang tua dalam masa ini sangat diperlukan dalam memberikan arahan dan petunjuk ke arah identitas yang islami. Hal ini sebaiknya (seharusnya) ditempuh dari semenjak anak masih kecil hingga menemukan kedewasaannya, mengingat “didikan lain dadakan” perlu kontinyuitas dan kesungguhan. “Dan hendaklah kalian takut jika meninggalkan di belakang kalian yang lemah (moral)”. (QS. An-Nisaa: 9)

2.2 Etika Pacaran Dalam Islam
Dalam bahasa Indonesia, pacar diartikan sebagai teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubunga btain, biasanya untuk menjadi tunangan dan kekasih. Berpacaran artinya bercintaan atau berkasih-kasihan. Dalam prakteknya, istilah pacaran dengan tunangan sering dirangkai menjadi satu. Muda-mudi yang pacaran, kalau ada kesesuaian lahir-batin, dilanjutkan dengan tunangan. Sebaliknya, mereka yang bertunangan biasanya diikuti dengan pacaran. Agaknya, pacaran dimaksudnya sebagai proses mengenal pribadi masing-masing pasangannya. Sedangkan tunangan itu adalah perjanjian untuk mengikat pernikahan di masa depan, dimana seringkali ditandai dengan tukar cincin atau perkenalan dengan keluarga.
Akibat pergeseran sosial, dewasa ini kebiasan pacaran masyarakat kita kian terbuka. Terlebih saat mereka merasa belum ada ikatan resmi, maka akibatnya bisa melampaui batas kepatutan. Kadang kala seorang remaja, menganggap perlu pacaran untuk tidak hanya mengenal pribadi pasangannya., melainkan sebagai pengalaman, uji-coba, maupun bersenag-senang belaka. Itu terlihat dari banyaknya remaja kita yang sering gonta-ganti pacar, ataupun masa pacaran yang relatif pendek. Beberapa kasus yang diberitakan oleh media masa juga menunjukkan bahwa akibat pergaulan bebas atau bebas bercinta (free love) tersebut tidak jarang juga menimbulkan hamil pra-nikah, aborsi bahkan akibat rasa malu di hati, bayi yang terlahir dari hubungan mereka berdua lantas dibuang begitu saja hingga tewas.
Sebenarnya agama Islam memandang hal ini menjadi suatu pandangan. Yang tergantung seperti apa kita memaknai pacaran. Kalau pacaran itu dimaksudkan untuk mengenal pribadi masing-masing pasangan, mengetahui latar belakang sosial, budaya, pendidikan, kondisis keluarganya, tanpa melakukan hal-hal yang tidak patut menurut kacamata adat, budaya, dan agama, maka hal itu bukan saja tidak bertentangan dengan Islam, bahkan justru itulah yang dianjurkan pada setiap pasangan, agar mereka berdua mengenal satu sama lain, sehingga diharapkan dengan, saling kenal itu, keluarga yang hendak dibangun dapat tegak berdiri, tak mudah goyah, tahan lama, dan harmonis.
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu kenal mengenal. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)
Sebaliknya, apabila pacaran itu dimaknai identik dengan bermesraan, berpelukan, berciuman, atau lebih jauh dari itu, yakni hubungan intim, dengan pretensi bahwa mengenal itu haruslah lahir-batin, atau seperti orang beli sepatu, harus dicoba dulu, maka hal tersebut bertentangan dengan nilai adat, budaya, kemanusiaan yang beradab, dan tidak pula sesuai dengan tuntunan Islam. Semua perkara yang dapat mendekatkan seseorang ke perzinaan, atau seks pra-nikah, apapun namanya, maka yang demikikan itu dilarang secara langsung menurut Al-Quran Q.S. Al-Isra’:32 disebutkan “Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk”. Batasan zina adalah bilaman hubungan seksual seseorang dilakukan secara tidak sah tanpa melalui ikatan (aqad), dan tidak memenuhi rukun dan syarat nikah.

A B S T R A K S I
SMAN I Kraksaan. Amira Abdul Kadir, Learnthia Diah Ishana Devi, Winda Justitia Ardiyani. 2008. Efek Hubungan Lawan Jenis Terhadap Peningkatan Motivasi Belajar Siswa.

Kedekatan antar lawan jenis sudah menjadi suatu hal yang lazim di kalangan remaja khususnya yang duduk di bangku SMA. Kedekatan antar lawan jenis atau yang biasa dikenal dengan pacaran memiliki berbagai dampak, baik dampak negatif maupun positif. Dampak yang positif dari kedekatan antar lawan jenis itu salah satunya bagi pelajar SMA adalah meningkatnya prestasi belajar siswa.
Dalam konteks agama Islam sebenarnya tergantung dari seperti apa individu tersebut memaknai pacaran. Kalau pacaran itu dimaksudkan untuk mengenal pribadi masing-masing pasangan tanpa melakukan hal-hal yang tidak patut menurut kacamata adat, budaya, dan agama, maka hal itu tidak hanya bertentantangan dengan Islam, bahkan justru itulah yang dianjurkan pada setiap pasangan insan. Sebaliknya apabila pacaran itu dimaknai identik dengan bermesraan, berpelukan berciuman, atau lebih jauh dari itu. Semua perkara yang dapat mendekatkan seseorang ke arah perzinaan, apapun namanya yang demikian itu dilarang secara langsung oleh Al-Quran.
Berdasarkan hasil survei menggunakan angket yang telah dilakukan dengan tema peningkatan motivasi belajar siswa berpacaran di dapat bahwa:
1. Kebanyakan anak SMA sekarang sudah banyak yang berpacaran.
2. Motivasi belajar dan prestasi anak yang berpacaran semakin meningkat.

Kekerasan Verbal dan Psikis Akibat Broken Home

Kekerasan Verbal dan Psikis Akibat Broken Home. Leranthia Diah Ishana Devi. SMAN I KRAKSAAN

Anak adalah karunia dan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa, yang di dalam dirinya melekat harkat dan martabat sebagai manusia seutuhnya. Harkat dan martabat tersebut membuat setiap anak memiliki hak masasi manusia, dimana hak asasi manusia setiap anak merupakan hak dasar yang secara kodrat melekat pada diri masing-masing anak yang bersifat universal dan langgeng.
Namun hak asasi manusia setiap anak ini di zaman sekarang merupakan suatu hal yang mudah dilecehkan, tanpa perlindungan dan tanpa penghormatan yang seharusnya tidak dilakukan. Hal ini terjadi karena orang tua yang mendidik anak tersebut tidak memiliki rasa kemanusian, tidak memiliki perasaan simpati, egoisme diri tinggi dan menyepelehkan hak asasi manusia tersebut karena kurangnya wawasan hukum tersebut.
Sehingga karena minimnya wawasan dari orang tua atau pengasuhnya. Anak tidak luput pula dari berbagai macam tindak kekerasan yang orang dewasa sebabkan atau lakukan. Bentuk-bentuk kekerasan yang secara prosentase banyak diterima anak-anak baik di rumah maupun di sekolah adalah: dipukul atau disabet dan dicubit (kekerasan fisik); dicolek dan disingkap roknya (kekersan seksual); dimarahi, diejek dan dimaki (kekerasan verbal).
Yang disebut dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak dalam kandungan. Anak merupakan tunas, potensi dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa. Anak sebagai generasi penerus bangsa memiliki peran strategis dan mempunyai ciri dan sifat khusus yang menjamin kelangsungan eksistensi bangsa dan negara pada masa depan.
Agar mampu memikul tanggung jawab tersebut, maka anak perlu kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, fisik, mental maupun sosial dan berakhlak mulia, perlu dilakukan upaya perlindungan serta mewujudkan kesejahteraan anak dengan memberikan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya serta tanpa diskriminasi.
Namun kebanyakan anak yang memiliki latar belakang orang tua broken home. Anak tersebut mengalami kekerasan verbal kekersan psikis baik secara intern maupun ekstern.
Beberapa kekerasan verbal atau psikis yang berasal dari luar atau intern yang sering diterima oleh anak-anak. Dan beberapa solusi sederhananya. Sehingga kekerasan verbal dan psikis dapat minimalisr.
1. Secara intern biasanya anak yang mengalami orang tua broken home mendapat perlakuan secara tidak manusiawi atau KDRT (kekerasan psikis). Penulis mengatakan demikian karena salah saru dari teman penulis mengalami hal yang demikian, sehingga penulis tergugah untuk menguaknya. Pelaku kekersannya dalah orang tua asuhnya. Orang tua yang seperti inilah yang bisa menghambat perkembangan anak yang berpotensi. Padahal dalam undang-undang konvensi anak, anak berhak tumbuh dan berkembang secara optimal. Peneyelesaian sederhana dari masalah ini adalah, anak tersebut harus bisa bagaimana caranya untuk tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat menyulut emosi orang tua. Sedangkan orang tua harus bisa menanamkan kedisplinan pada anak, sehingga anak tidak merasa terisolasi.
2. Orang tua memeberikan cara pengasuhan yang salah. Setiap anak dalam pengasuhan orang tua tidak berhak mendapat perlakuan, diskriminasi, eksploitasi (ekonomi atau seksual), penelantaran, kekejaman, kekerasan, penganiayaan, ketidak adilan dan perlakuan salah lainnya. Dengan begitu setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tua sendiri kecuali jika ada alasan tertentu seperti broken home atau pisah rumah yang terjadi dalam rumah tangga sehingga pemisahan di anggap baik demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir. Sehingga orang tua harus lebih mengerti lagi terhadap hak-hak konvensi anak, yang dapat mensejahterakan anak.
3. Secara ekstern, biasanya anak mengalami makian dan ejeken dari teman sepermainan atau lingkungan tempat ia tinggal. Sehingga secara langsung anak akan mengalami tekanan batin yang dapat menghambat tumbuh kembang anak tersebut nantinya. Untuk teman sepermainan yang biasanya mengejek atau memaki, bisa diberikan nasehat oleh orang tuanya masing-masing. Sehingga agar berjalan konsisten lingkungan pun perlu mendapatkan penyuluhan. Karena dari pengamatan penulis, penyuluhan semacam ini kurang dilakukan.
4. Ekstern yang berikutnya adalah masalah pendidikan. Anak-anak produk broken home kebanyakan sering berfikir negatife thinking sehingga akan jauh dari kata sukses dalam bidang pendidikan. Namun apabila orang tua asuh sudah menanamkan kedisplinan sejak dini maka nyata sudah anak tersebut akan sukses. Di sini dapat dilihat anak tersebut telah membuktikan bahwa anak tersebut meliki kemampuan yang lebih dari teman-temannya yang lain. Sehingga berdasarkan pasal 52 bagian 3 tentang pendidikan yaitu, anak yang memilki keunggulan diberikan kesempatan dan aksesbilitas untuk memperoleh pendidikan yang khusus. Di mana di sini pemerintah bertanggung jawab pula untuk memberikan biaya bantuan pendidikan dan bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak dari kalangan tidak mampu, anak terlantar dan anak bertempat tinggal di daerah terpencil.
Dari masalah pengamatan yang di lakukan penulis. Penulis mempunyai beberapa saran yang baik yaitu, setiap anak mempunyai hak asasi manusia seharusnya harus di gunakan dan di manfaatkan dengan baik sehingga tidak merugikan diri sendiri. Karena hak asasi manusia adalah hak dasar yang secara kodrat melekat pada diri manusia, yang bersifat unversal dan langgeng, oleh karena itu harus dilindungi, dipertahankan dan tidak boleh diabaikan, dikurangi atau dirampas oleh siapapun.

tanah

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penulisan
Tanah merupakan tempat bermukimnya berbagai kehidupan tumbuhan. Hewan dan jasad renik yang tak terhitung jumlahnya. Pada kenyataannya, banyak orang disekitar kita yang belum menyadari pentingnya pemulian atau pelestarian sumber daya tanah. Tanah dapat dilestarikan dengan cara mudah, apabila kita sadari hal tersebut mulai dari diri kita sendiri. Dan akan menjadi sulit apabila kita tidak menyadarinya. Kurangnya kesadaran tersebut mengakibatkan tanah yang sebagai pijakan di bumi ini terganggu dengan salah satunya dengan erosi tanah yang karena kurangnya kesadaran manusia sendiri.
Erosi tanah agar tidak terjadi salah satunya dengan menananm tanaman untuk melindungi tanah tersebut. Waktu hujan tidak lebat, air tidak mengalir melainkan merasap ke dalam tanah, tanah tidak hanyut, tetapi menjadi lembab. Sedangkan waktuhujan lebat, air tidak meresap kedalam tanah atau bila meresap hanya sedikit, sedangkan sebagian besar mengalir di atas tanah. Aliran itu membentuk parit-parit dan membawa hanyut tanah. Semakin deras hujannya semakin besar pula parit-paritnya yang berarti besar pula hanyutannya. Bila tidak ada tanaman yang melindungi tanah dan bila tanah itu gundul erosi akan semakin hebat. Maka dari itu perlu adanya pemulian terhadap tanah.

1.2 Tujuan Penulisan
1. Menjaga tanah dari kerusakan atau erosi tanah.
2. Mengetahui proses terjadinya tanah dan dapat menjaga kesuburan tanah.
3. Mengetahui cara membedakan tanah.

1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah proses terjadinya tanah dan apa sajakah lapisan dari tanah tersebut?
2. Bagaimana cara membedakan tanah?
3. Apakah yang disebut humus dan bagaimana cara terjadinya?
4. Bagaimana cara menjaga kesuburan tanah?
5. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi besar kecilnya erosi dan bagaimanakah cara mengatasi erosi tersebut?

1.4 Manfaat Penulisan
1. Sebagai penambah wawasan kepada para pembaca mengenai tanah.
2. Memberikan semangat pada para pembaca untuk lebih menghargai dan memuliakan tanah.
3. Mengembangkan landasan yang diperlukan dalam pemikiran yang lebih luas tentang tanah.

1.5 Ruang Lingkup Penulisan
1. Penulisan ini hanya dibataskan pada erosi tanah yang disebabkan oleh air dan angin.
2. Tanah yang menjadi fokus pada karya tulis ini hanya tanah pasir, tanah liat dan tanah lempung.

1.6 Metode Penulisan
Metode penulisan yang digunakan oleh penulis dalam penyusunan karya tulis ini adalah metode studi pustaka. Di mana studi pustaka yang disarankan oleh guru pembimbing yaitu, menyarankan agar setiap penulis menyiapkan tiga buku sebagai referensi dan sumber data dalam karya tulis ini.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Proses Terjadinya Tanah dan Lapisan Yang Menyusun Tanah
Terjadinya tanah dari batuan induk, menjadi bahan induk tanah, berangsur-angsur menjadi lapisan tanah bawah yang akhirnya membentuk tanah atas memerlukan waktu lama sekali sampai berabad-abad. Adapun yang menyebabkan batu-batuan induk itu menjadi lapisan tanah dan menjadi tanah yang baik karena ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi, yakni sinar matahari, air, hawa, tumbuh-tumbuhan, makhluk hidup dan jasad hidup yang lain dalam tanah.
2.1.1 Sinar Matahari
Pada siang ahri batuan itu mengembang dan pada malam hari atau siang hari waktu hujan, batuan itu mengkerut (mengecil). Karena perbedaan suhu panas dan dingin yang terjadi dengan tiba-tiba maka pecahlah batuan tersebut.
Batuan yang pecah permukaannnya menjadi lebar, karena permukaan batuan itu, maka bagian yang tersentuh air dan udara bertambah banyak, hingga zat-zat di dalam batuan mudah bercampur dengan air dan udara. Jadi pengaruh sinar matahari dalam hal ini dapat memecahkan batuan dan memindahkan zat-zat di dalam batuan-batuan bersenyawa dengan udara dan air.
2.1.2 Air
Air dapat memecahkan batu-batuan menjadi butir-butir tanah dengan dua jalan yakni:
1. Garam-garam mineral yang terkandung dalam batu-batuan itu akan hancur sedikit demi sedikit karena kekuatan air. Karena hancurnya garam-garam itu maka pevahlah batuan itu menjadi butir-butir tanah.
2. Tetesan air yang terus menerus pada batuan itu, akhirnya sedikit demi sedikit akan berlubang dan hancur menjadi butir-butir tanah, juga air hujan yang mengumpul di sungai akan menjadi banjir. Banjir itu akan membawa batuan ke tempat lain, hingga batu itu pecah belah, akhirnya menjadi butir tanah.
2.1.3 Udara
Di adalam udara itu terdapat zat-zat pembakar (O2) dan zat-zat asam arang (CO2), maka udara dapat memecahkan batuan. Zat pembakar dapat memecahkan batuan, terutama batuan yang banyak mengandung besi. Zat arang dapat memecahkan batuan yang banyak mengandung kapur. Batuan yang banyak mengandung kapur tidak akan hancur di dalam air, tetapi air yang banyak mengandung zat arang dapat menghancurkan batuan yang mengandung kapur.
2.1.4 Tumbuh-tumbuhan
Pada batuan yang keras sekali tak akan tumbuh tanaman, tetapi di dalam celah-celah batuan berkumpullah tanah sedikit demi sedikit, hingga tumbuh beberapa tanaman. Tanaman menhghisap garam-garam mineral, bila tanaman itu mati, membusuk di dalam celah-celah batuan akhirnya menjadi bunga tanah dan garam-garam mineral. Kemudian tumbuh tanaman yang lain. Oleh akar tanaman celah-celahnya diperbear, dan akar tanaman itu sendiri mengeluarkan asam arang, maka dapat menghancurkan batuan, terutama batuan yang mengandung kapur.
2.1.5 Makhluk Hidup
Banyak makhluk hidup yang terdapat di dalam tanah yang membantu memecahkan batuan hingga menjadi tanah yang baik. Makhluk-makhluk hidup yang penting itu antara lain:
1. Cacing tanah, di dalam tanah terdapat banyak cacing. Bila cacing-cacing yang hidup di dalam 1 Ha tanah itu dikumpulkan, akan menjadi tumpukan yang besar hingga dapat menyamai 2 ekor lembu.
2. Rayap, sebagian rayap hidup di dalam tanah. Rayap-rayap itu menghancurkan tanaman-tanaman yang mati, dan menggali lubang yang sangat dalam, dia membawa naik tanah yang halus-halus untuk membuat rumahnya. Bila rumah atau tanah yang halus itu bercampur dengan tanah yang agak kasar, akan menjadi tanah yang baik.
3. Serangga yang lain, seperti semut, anjing tanah, gangsir dan sebagainya hidup di dalam tanah. Berfaedah atau tidak, mereka dapat merubah tanah.
Makhluk-makhluk hidup tersebut membuat lubang dan makan sisa tumbuhan di dalam tanah. Semua bahan organis dapat dihancurkan dan bercampur di dalam tanah. Karena makhluk hidup itu membuat lubang di dalam tanah maka udara, air, air, sinar matahari, dapat masuk ke dalamnya, hingga batu-batuan yang terdapat di dalam tanah itu dapat di rubah. Selain daripada itu binatang-binatang tersebut makan batu-batuan kecil di dalam perutnya batuan itu menjadi halus, setelah dikeluarkan menjadi tanah.
2.1.6 Jasad hidup lain yang hidup di dalam tanah
Jasad hidup yang penting adalah bakteri. Kita telah tahu bahwa bakteri di dalam tanah itu banyak sekali, tetapi tak dapat dilihat dengan mata, karena kecilnya. Bakteri-bakteri itu yang merubah sisa-sisa tanaman dan hewan menjadi bunga tanah. Bila bunga tanah bercampur dengan tanah, akan menjadi tanah pertanian yang baik. Selain itu ada jenis bakteri yang memberi zat lemas (N) kepada tanaman.
Kita telah tahu bahwa daun-daunlah yang mengambil zat arang dari udara. Di udara itu juga terdapat zat lemas. Agar dapat hidup dengan baik tanaman membutuhkan zat lemas, tetapi tanaman tak dapat mengambil zat lemas dari udara dan hanya dapat menghisap zat lemas dari dalam tanah melalui akar-akar rambut.
Dalam hal ini bakteri yang dapat mengambil zatr lemas dari udara sebagai makanannya. Bila bakteri itu mati, tinggal di dalam tanah dan membusuk. Zat lemas berubah menjadi garam-garam mineral. Dengan beginilah zat lemas diambil oleh tanaman.
Di dalam tanah, di mana-mana terdapat bakteri yang dapat mengambil zat lemas. Bakteri itu mengumpul pada akar tanaman dengan bentuk bintik-bintik kecil. Dalam bintil-bintil itulah, bakteri mengambil zat lemas kepada tanaman. Bila tanaman itu mati membusuk di dalam tanah akan merubah dan memperbaiki susunan tanah. Tidak semua tanaman mengandung bintil-bintil, hanya tanaman yang berbunga kupu-kupu sajalah yang mengandung bintil-bintil akar. Contohnya: kacang tanah, kedele, orok-orok,turi, dadap dan sebagainya.
2.2 Lapisan Tanah
Di dalam tanah itu ada semacam garis yang melintang di mana tebal tipisnya lapisan tidak sama. Begitu juga warnanya, seolah-olah satu sama lain merupakan batas tertentu dari garis yang satu dengan yang lain. Terkadang perbedaan garis-garis itu sangat jelas, kadang-kadang ada garis-garis yang perbedaannya hampir tidak kelihatan. Itulah yang yang disebut lapisa tanah. Tanah iu biasanya ada beberapa lapisan, akan tetapi dalam garis besarnya lapisan tanah itu bisa dibagi menjadi empat, yakni:
1. Lapisan Tanah Atas
Lapisan ini tebalnya antara 10-30 cm, warnanya coklat sampai kehitam-hitaman, lebih gembur yang biasanya disebut tanah olah atau tanah pertanian.
Lapisan ini merupakan tempat pertumbuhan tanaman yang utama. Di sini hidup dan berkembang biak semua jasat hidup tanah dan merupakan lapisan tanah yang tersebur. Warna hitam atau coklat dan suburnya tanah disebabkan oleh bunga tanah (campuran sisa tumbuh-tumbuhan dan hewan yang telah mati dan membusuk di dalam lapisan tanah atas).
2. Lapisan Tanah Bawah
Lapisan ini tebaknya 50-60 cm, jadi lebih tebal daripada lapisan tanah atas. Warnanya kemerah-merahan, lebih terang atau lebih muda, dan lebih padat, maka sering disebut tanah cadas (padas) atau tanah keras.
Umumnya kandungan zat makanan tanaman sangat sedikit. Itu saja hanya terdapat pada lapisan yang berdekatan dengan lapisan tanah atas. Di sini kegiatan jasat hidup berkurang, demikian juga perakaran tanaman. Kecuali tanaman yang berumur panjang (tahunan) yang mempunyai akar tunggang yang dalam.
3. Lapisan Bahan Induk Tanah
Di bawah lapisan tanah kedua (tanah bawah), terdapat suatu lapisan yang menyolok warnanya: kemerah-merahan atau kelabu keputih-putihan. Lapisan ini disebut bahan induk tanah, karena merupakan asal atau induk dari lapisan tanah bawah.
Lapisan ini dapat pecah dan dirubah dengan mudah, tetapi sukar ditembus oleh akar. Di lereng-lereng gunung lapisan ini sering kelihatan jelas, dimana lapisan di atasnya telah hilang atau hanyut oleh aliran air hujan. Maka tanah demikian itu sukar diolah dan umumnya sangat kerdil tidak banyak mengandung zat-zat makanan.
4. Lapisan Batuan Induk
Di bawah lapisan bahan induk tanah terdapat lapisan yang keempat, yang biasanya disebut batuan induk. Masih merupakan batuan pejal, belum mengalami proses pemecahan. Inilah merupakan bahan induk tanah yang mengalami perubahan beberapa proses dengan makan waktu yang sangat lama.
Batuan itu jauh lebih dalam, maka jarang kelihatan pada permukaan tanah. Di pegunungan-pegunungan sering kelihatan, tetapi tumbuh-tumbuhan tak dapat hidup, kalau tertutup tanah sedikit saja tumbuh-tumbuhan dapat hidup, kalau tertutup tanah sedikit saja tumbuh-tumbuhan dapat hidup, tetapi hanya rerumputan saja.
Tidak semua susunan tanah itu seperti apa yang telah diuraikan di atas. Mungkin tanah padas itu terletak di permukaan bumi, sehingga lapisan atasnya sangat tipis, bahkan ada kalanya batu induk itu kelihatan, sehingga lapisan tanah hampir tidak ada. Pendek kata, tanah itu pada berbagai-bagai tempat tebalnya tidak sama, tergantung dari letak tanah itu sendiri. Misalnya di derah-daerah pegunungan berbeda dengan di daerah-daerah lembah. Maka kehidupan tumbuh-tumbuhanpun akan berbeda pula.
Tanah yan baik untuk pertanian adalah tanah yang terletak di daerah lembah, sedang lereng-lereng akan tampak lapisan ke tiga atau lapisan ke empat di pegunungan itu sendiri tanahnya sangat tipis.

2.3 Cara Membedakan Tanah
Jika akan membedakan tanah juga sekaligus akan mengetahui macam-macam dan sifat-sifatnya. Maka tanah dapa dibedakan menurut, macamnya dan warnanya.
2.3.1 Macam Tanah
Menurut besar kecilnya butir-butir tanah dapat dibedakan menjadi tiga macam.
1. Tanah Pasir
Tanah pasir yang banya mengandung pasir disebut tanah pasir, kandungan pasirnya kurang lebih 70%, sedang lain-lainnya adalah tanah.
Butir-butirnya da yang kasar ada yang halus, yang banyak mengandung butiran yang kasar, disebut tanah pasir kasar. Sedang yang mengandung butir-butir pasir halus, disebut tanah pasir halus. Butir-butir tanah pasir itu terlepas satu sama lain atau berderai-derai, maka mudah dikerjakan.
Sifat tanah pasir kurang sekali menahan air, bersifat longgar, sarang mudah merembaskan air, maka disebut mampung. Karena udara mudah masuk, maka tanah pasir cepat mengering. Selain itu, tanah pasir itu kurus, karena kurang menahan zat-zat makanan. Jadi, tanah pasir itu dapat disimpulkan, termasuk tanah ringan, sehingga mudah dikerjakan, air dan udara mudah masuk ke dalamnya, cepat mengering, kanndungan zat makanan sangat sedikit.
Dengan demikian tanah pasir itu tidak dapat ditanami. Agar tanah pasir dapat ditanami dengan baik, harus dipupuk dengan pupuk organis, seperti: pupuk kandang, kompos, pupuk hijau. Karena dengan adanya pupuk organis itu tanah yang tadinya ringan menjadi agak berat.
2. Tanah Liat
Hampir senua tanah mengandung liat. Tanah yang banyak mengandung liat, disebut tanah liat. Kandungan liat kurang lebih 65%. Butir-butirnya jauh lebih halus. Karena halusnya, maka susunan butir-butirnya rapat benar. Air dan udara sukar masuk di dalamnya, sifat ini disebut tidak mampung artinya merembeskan air. Udara dan air yang telah masuk sukar keluar, maka liat itu sering menjadi asam.
Sifatnya, waktu hujan air masuk ke dalam tanah, makan waktu agak lama. Bila sudah basah tanah ini becek, melekat pada tangan dan alat-alat. Tanah liat sukar dikerjakan, maka disebut tanah berat.
Pada musim kemarau tanah liat menjadi keras sekali, retak-retak serta berbongkah-bongkah, gumpalan-gumpalan sukar di hancurkan, yang dapat hancur menjadi debu yang lebih halus daripada tepung. Walaupan demikian, tanah liat itu sesungguhnya banyak mengandung berbagai makanan.
Seperti: at kali, zat phospor, tetapi biasanya kurang mengandung zat lemas. Tanah liat itu dapat disimpulkan, berat dikerjakan, peredaran udara dan air kurang baik, kalau kering retak-retak, kalau tergenang air becek, banyak mengandung zat makanan.
Umumnya tanah ini kurang baik untuk usaha pertanian. Karena akar tumbuh-tumbuhan sukar menembusnya, apabila akar itu dapat menembus, mudah menjadi busuk karena kekurangan udara. Namun demikian tanah liat dapat diperbaiki dengan diberi pasir, kapur dan pupuk-pupuk organis lain.

3. Tanah Lempung (debu)
Tanah tertentu, bukan tanah pasir dan bukan tanah liat, melainkan bentuk antara pasir dan liat, yakni yang disebut tanah lempung. Butir-butirnya jauh lebih kecil daripada butir tanah pasir, tetapi lebih besar dariada tanah liat.
Tanah lempung tidak mudah merembeskan air seperti tanah pasir, tetapi lebih mudah merembaskan air daripada tanah liat, begitu pula tata udaranya. Dengan kata lain tanah lempung tata udara dan air baik.
Sifatnya, tanah lempung bila basah tidak lekat seperti tanah liat, sebaliknya bila kering tidak retak dan tidak bergumpal. Umunya banyak mengandung zat makanan tanah lempung lebih berat daripada tanah pasir, tetapi lebih ringan daripada tanah liat, butir-butirnya lebih pdat daripada tanah pasir, tetapi lebih longgar daripada tanah liat. Maka lebih mudah dikerjakan.
Dapat disimpulkan tanah lempung, mudah dikerjakan, tata udara dan air baik, banyak mengandung zat makanan. Tanah demikian yang baikuntuk usaha pertanian. Tanah yang paling baik untuk pertanian adalah tanah yang merupakan campuran daripada pasir, liat dan bunga tanah. Pada tanah semacam inilah semu tanaman dapat tumbuh subur.
2.3.2 Warna Tanah
Tanah dapat dibedakan menurut warnanya. Warna itu tergantung daripada jenis batuan aslinya, dalam hal ini dapat dibedakan:
1. Tanah Putih
Tanah yang berwarna putih umumnya tanah liat yang kurus. Warna putih dan kurusnya tanah itu disebabkan karena terjadinya pencucian oleh air. Tanah putihpun bermacam-macam pula tingkat kesuburannya. Tanah yang warnanya putih baik waktu basah maupun waktu kering umumnya tanah itu kurus. Bila waktu kering kering tanah itu berwarna putih, tetapi bila basah berwarna kelabu, umumnya tanah itu agak subur.
2. Tanah Kuning Muda dan Merah Muda
Umumnya tanah itu kurus, tetapi bila dibandingkan dengan tanah yang berwarna putih, masih agak subur.
3. Tanah Kuning Tua dan Merah
Tanah semacam ini umumnya lebih subur, tetapi kekurangan bunga tanah.
4. Tanah coklat dan hitam
Tanah ini umumnya adalah tanah yang subur warna coklat dan hitam oleh kandungan bunga tanah.
2.4 Bunga Tanah (humus)
Penguraian sisa-sisa tumbuhan dan pembentukan berbagai senyawa oleh organisme tanah menjadikan tanah mengandung sejumlah besar senyawa organik dalam berbagai tahap penguraiannya. Humus adalah istilah yang dipakai untuk menyebutkan bahan organik yang telah mengalami penguraian secara menyeluruh dan resisten terhadap perubahan selanjutnya.
2.4.1 Proses Terjadinya humus
Sisa-sisa organik yang ditambahkan ke dalam tanah tidak diuraikan secara keseluruhan, tetapi konstituen kimianya diuraikan sendiri-sendiri tak tergantung pada yang lain. Dalam pembentukan humus dari sisa-sisa tanaman terdapat reduksi yang cepat dari konstituen yang larut air, selulosa, dan hemiselulosa, suatu peningkatan yang relatif dalam persantase lignin dan kompleks lignin, dan suatu peningkatan kandungan protein. Protein baru diperkirakan terbentuk sebagian besar sebagian besar sebagai akibat ktivitas sintetis jasad-jasad renik. Lignin dan humus kebanyakan berasal dari sisa-sisa tumbuhan dengan, barangkali, modifikasi kimia tertentu. Lignin mempunyai struktur cincin 6 atom karbon yang tahan terhadap penguraian secara enzimatik. Reaksi lignin dengan asam-asam amino dan substansi lain membentuk senyawa yang sangat resisten dan meningkatkan akumulasi bahan-bahan lignindan protein dalam humus. Lemak dan lilin memiliki ketahanan yang sedang terhadap penguraian.
Tabel 2.1
Komposisi Parsial Jaringan Tanaman Dewasa dan Bahan Organik Tanah
Komponen Persen
Jaringan Tanaman Bahan organik tanah
Selulosa 20-55 2--10
Hemiselulosa 10--30 0--2
Ligin 10--30 35--50
Protein 1--15 28--35
Lemak, lilin, dan sebagainya 1--8 1--8
Secara alami, protein mudah mengalami penguraian dalam tanah. Ada dua mekanisme tambahan yang diperkirakan sebagai penyebabterjadinya akumulasi protein dalam humus. Pertama, ada alasan untuk percaya bahwa molekul-molekul protein dapat diserap pada permukaan mineral tanah liat dan menyebabkannya resisten terhadap penguraian. Kedua, enzim-enzim yang menguraikan protein mungkin juga diserap oleh mineral tanah liat sehingga protein menjadi kurang rentan terhadap penguraian. Bahwa tanah liat memainkan peran penting didukung oleh kenyatan bahwa tanah yang mempunyai kandungan tanah liat yang tingi cenderung mengandung bahan organik yang tinggi. Laju penguraian humus yang rendah ini mempunyai arti yang cukup praktis. Hal ini memberikan peluang penyimpanan nitrogen dalam tanah sedikit demi sedikit.
Ringkasan sistematis umum proses yang menuju pembentukan humus ditunjukkan gambar 2.1. bahan yang umumnya disebut humus meliputi massa sisa-sisa tanaman yang mengalmi penguraian bersama dengan substansi sel yang tersintesis serta produk antara dan produk akhir tertentu. Humus ini secara konstan berubah komposisinya. Oleh sebab itu, lebih tepat menyebut humus bukan sebagai suatu golongan substansi tungal tetapi, memang sebagai suatu bahan yang berbeda-beda dalam berbagai pembentukan.
Gambar 2.1 skema gambaran
Mekanisme pembentukan humus pada
penguraian sisa-sisa tumbuhan dalam tanah.
2.5 Menjaga Kesuburan Tanah
Yang dimaksud dengan kesuburan tanah adalah kemampuan tanah untuk menyediakan unsur-unsur makanan tanaman dalam jumlah yang cukup dan seimbang, sehingga dapat memberi hasil seperti apa yang diharapkan oleh si penanam. Kesuburan tanah itu sangat erat hubungannya dengan bentuk atau susunan tanah, dan banyaknya bahan-bahan organis di dalam tanah.
Lapisan tanah yang subur itu hanya sekitar 10-30 cm tebalnya padea permukaan tanah. Di sana-sini tidak sama tebal dan kesuburannya, pada tanah yang subur harus kita pertahankan, sedang tanah yang kurang subur kita buat supaya menjadi subur. Hal ini dapat dijalankan dengan bermacam-macam cara. Maka lapisan tanah subur itu harus dipelihara sebaik-baiknya supaya kesuburannya tidak merosot. Kesuburan tanah itu dari tahun ke tahun selalu berubah. Tanah yang subur dapat menjadi kurus bila tidak terpelihara, sebaliknya tanah yang kurus dapat menjadi subur jika dikerjakan sebaik-baiknya.
2.5.1 Cara Memelihara Kesuburan Tanah
Cara memelihara atau mempertahankan kesuburan tanah itu bermacam-macam jalannya. Untuk dapat memeliharanya dengan baik, harus mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan mundurnya kesuburan tanah itu. Setelah diketahui faktor-faktornya, mudah untuk pemeliharaannya.
Pada umum yang menyebabkan mundurnya kesuburan tanah antara lain faktor, tanaman, ternak, kekeringan, erosi.
Tanah yang ditanami terus menerus dapat menjadi kurus, karena banyak zat-zat makanan yang dihisap oleh tanaman dan akhirnya banayk juga yang diangkut oleh panenn dan tidak kembali kepada tanah, padahal zat makanan tidak bertambah. Maka cara memelihara atau mengembalikan kesuburan tanah dengan jalan.
1. Diberi pupuk, baik pupuk alam maupun pupuk buatan.
2. Diadakan pergiliran tanaman, misalnya: habis ditanam padi kemudian ditanam kedele, kacang tanah.
3. Tanah dikerjakan sebaik-baiknya dan pengairan secukupnya.
4. Bila perlu diberi kesempatan beristirahat atau diberokan.
Tanah yang selalu dipergunakan untuk menggembala ternak, terutama ternak besar seperti kerbau, lembu, dan kuda, rumput-rumputan tak dapat tumbuh lagi, selain itu karena tanah selalu diinjak-injak, maka tanah menjadi padat, dan susunannya menjadi jelek. Tanah yang demikian dapat dihindarkan dengan jalan:
1. Hindarkan penggembalaan terus menerus.
2. Tanamlah pupuk hijau, misalnya; kacang-kacangan.
3. Kerjakan tepat pada waktu.
Pada musim kemarau yang panjang di mana sama sekali tak ada hujan, tumbuhan tak dapat hidup, sehingga itu tak dapat menerima bahan organis yang cukup, maka hampir tidak ada humus. Jadi karena, kekeringan tanah akan menjadi kurus. Hal ini disebabkan selain tak ada humus, juga karena tanah yang susunannya jelek padabagian atas dapat terbawa oleh angin. Kemerosotan yang demikian memeng sukar diatasi, satu-satunya jalan untuk mengatasi itu, dengan jalan:
1. Jauh sebelum musim kemarau panjang, atau pada musim penghujan ditanami dengan tanaman tahunan. Seperti: dadap, sengon.
2. Diadakan penghijauan atau reboisasi.
Kekuatan air hujan dan air sungai dapat menghanyutkan tanah. Penghanyutan oleh kekuatan air itulah yang disebut ersi
2.6 Erosi
Kekuatan air hujan dan air sungai dapat menghanyutkan tanah. Penghanyutan oleh kekuatan air itulah yang disebut erosi. Dengan adanya erosi ini lapisan tanah atas yang banyak mengandung zat-zat makann dapat hilang atau musnah, akhirnya tanah menjadi kurus. Besar kecilnya erosi sangat tergantung pada, susunan tanah, curah hujan, miringnya tanah, tumbuhan penutup tanah.
Di sana-sini banyak terdapat tanah pasir, karena susunan butir-butirnya berderai-derai. Tanah demikian mudah hanyut baik oleh air hujan maupun angin. Lebih-lebih pada musim kemaru yang panjang tidak sedikit tanah yang dibawa angin. Maka tanah yang demikian harus dijaga dan dilindungi.
Waktu hujan tidak lebat, air tidk mengalir, melainkan meresap ke dalam tanah, tanah tidak hanyut, tetapi menjadi lembab. Waktu hujan lebat, air tidak meresap ke dalam tanah atau bila meresap hanya sedikit. Sedang sebagian besar mengalir di atas tanah. Aliran itu membentuk parit-parit dan membawa hanyut tanah. Semakin deras hujannnya semakin besar pula hanyutannya. Bila tak ada tanaman yang melindungi tanah, dan bila tanah itu gundul erosi akan semakin hebat.
Tanah di lereng-lereng gunung mudah sekali hanyut daripada tanah datar, karena di pegunungan letaknya miring. Makin miring letaknya makin besar jumlah tanah yang dihanyutkan. Terkecuali, walaupun tanah itu miring, tetapi banyak ditumbuhi oleh pohon yang dapat menahan hanyutnya tanah.
Tanah gundul akan mudah hanyut dripada tanah yang ditanami pohon-pohonan. Lebih-lebih pada waktu musimkemarau angin kencang, tanah gundul yang susunannya jelek mudah dibawa oleh angin. Maka menebang dan membakar kayu di hutan-hutan harus dilarang keras, supaya tanah tidak menjadi gundul.
Erosi pada tanah pertanian sangat buruk pengaruhnya karena:
1. Tanaman dapat dibawa hanyut.
2. Garam-garam mineral turut hanyut.
3. Pematang mnjadi hancur.
4. Sering-sering lapisan tanah olah hanyut sama sekali.
5. Batu induk dapat kelihatan.
6. Akhirnya tanah itu tak dapat di tanami.
Daya erosi pada suatu tempat dengan tempat lain daerah tidaklah sama. Hal ini sangat tergantung tanaman yang diusahakan. Sebagai contoh dapatlah kami kemukakakan di suatu tempat yang diperhitungkan, berapa kg tanah yang dibawa hanyut oleh air hujan selama satu tahun/Ha.
keadaan Tanaman Tanah yang Hanyut kg/Ha
Tanah gundul 117.000
Tanah yang ditanami ketela 92.000
Tanah ditanami dengan penutup tanah 42.000
Tanah yang ditanami nanas 151.000
Tanah hutan 2.400
Dengan begitu jelaslah bahwa tanah gundul paling banyak yang hanyut, sedang tanah yang ada tanamannnya erosi makin sedikit. Lebih-lebih pada tanah hutan hampir tidak ada erosi.
2.6.1 Mengurangi Erosi
Mengingat banyaknya faktor-faktor yang mempengaruhi besar atau kecilnya penghanyutan tanah, maka pencegahannya juga bermacam-maca pula. Adapun cara mengurangi erosi ada dua cara, yakni: secara tehnis dan secara biologis.
1. Secara Tehnis
Aliran air dapat ditahan, setidak-tidaknya dapat mengurangi kecepatannya. Dalam hal ini kita dapat membuat pematang, parit dan teras.
Membuat pematang. Pematang harus dibuat melintang tidak boleh membujur. Karena pematang dapat menahan air dan mengurangi kecepatan aliran air, sehingga hanyutnya tanah dapat dikurangi. Pada pematang yang membujur aliran air akan bertambah cepat, sehingga banyak tanah yang dibawanya.
Pematang membujur air mengalir dengan cepat dan tanah hanyut dibawanya. Dengan membuat pematang melintang, berarti mengurangi erosi. Maka pematang-pematang harus pada ketinggian yang sama atau dibuat mendatar. Banyaknya tanggul itu tergantung pada miringnya tanah.
Membuat parit. Pada lereng yang curam kita bangun parit-parit. Karena pada lereng itu mengalirnya air akan lebih cepat, mungkin dapat menghancurkan pematang. Dekat pematang itu kita gali parit, tanah yang dinaikkan diisikan pada bagian yang lebih rendah hingga menjadi pematang yang besar dan kuat, tetapi tidak boleh ditanami apa-apa, kecuali rumput-rumput yang tumbuh diatasnya, guna memperkuat pematang.
Petak antara parit-parit dengan parit kita tanami. Parit-parit tersebut mempunyai dua fungsi yaitu, menerima air yang kelebihan dan mengurangi kecepatannya, menampung tanah-tanah yang hanyut.
Membuat teras. Bila tanah sangat curam, perlu kita bangun teras memanjang. Pada tepi teras kita buat pematang dari tanah atau batu kali guna menahan tanah. Hal ini biasa dibuat di perkebunan-perkebunan yang terletak di daerah pegunungan. Lereng yang curam sekali sebaiknya jangan ditanami, biarkan saja tumbuh-tumbuhan diatasnya.
2. Secara Biologis
Menurut penyelidikan atau pengalaman bahwa banyak sedikitnya tanah yang hanyut itu tergantung ada atau tidaknya tumbuh-tumbuhanpada tanah itu. Mengingat kenyataan-kenyataan ini, maka tanah itu harus kita tanami tanam-tanaman penahan air dan penutup tanah.
Penahan air. Bila lereng begitu curam rumput-rumput itu dibiarkan tumbuh, karena ini dapat menahan air dan tanah. Maka kita buat jalur-jalur itu kita tanami rumput. Jalur-jalur rupmput itu dibuat melintang lebarnya kira-kira 2m. bila tanah tidak begitu miring jarak jalur yang satu dengan yang lain kuarang lebih 30-40 m. sedang yang agak miring kurang lebih 10-20 m.
Untuk mengurangi erosi sebaiknya ada bermacam-macam tanaman pada masing-masing petak, misalnya: kacang tanah, petak disebalahnya diberokan, kemudian jagung, sebelahnya diberokan, dan sebagainya. Selain itu tanaman penutup tanah itu anntinya akan menjadi bahan orgnis yang dapat memperbaiki struktur tanah. Kecuali itu tanah dapat terlindung pula terhadap angin dan sinar matahari, sehingga erosi dan anginpun dapat tertahan.
Tanaman penutup tanah harus kita pilih yang baik, cepat tumbuh dan tahan lama. Dan harus kita pelihara, tanah digemburkan, disiang, dan di pupuk. Kalau terlalu tinggi dapat dipangkas sekaligus dapat untuk makanan ternak dan dikembalikan pada tanah sebagai mulching.
Mulch ini berguna karena,
1. Rumput-rumput liar tak dapat tumbuh.
2. Menahan sinar matahari dan mengurangi penguapan.
3. Tanah tetap lembab.
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Dari rumusan masalah yang telah di bahas pada bab 2 maka dapat disimpulkan bahwa, untuk mengurangi erosi tanah, maka pencegahannya ada 2 cara, yaitu secara tehnis dan secara biologis. Secara tehnis dapat dilakukan dengan membuat pematang, parit dan terasiring. Sedangkan secara biologis dapat dilakukan dengan cara membuat penahan air.
Tanah terjadi dari batuan induk, menjadi bahan induk tanah, berangsura-angsur menjadi lapisan tanah bawah yang akhirnya membentuk tanah lapisan atas yang memerlukan waktu lama sekali sampai berabad-abad. Demikian proses terjadinya tanah secara singkat.
Sedangkan cara membedakan tanah dapat dibedakan menurut macam-macam dan warnanya. Macamnya, menurut besar kecilnya butir-butir tanah dapat dibedakan menjadi tiga macam. Pasir, liat dan lempung. Jika warna tanah, ada putih, kuning muda, kuning tua dan coklat tergantung pada jenis pada batuan asalnya.

3.2 Saran
Dari pembahasan diatas penulis menyarankan bagi para pembaca, agar untuk menjaga tanah dan mengurangi erosi, sebaiknya diadakan pergiliran tanaman, diberi pupuk, baik pupuk alami maupun buatan. Dan menjauhkan tanah dari penggunaan penggembalaan yang terus menerus, karena membuat tanah menjadi padat dan susunan tanahnya menjadi rusak.

aspek sosial budaya pd setiap perkawinan

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Aspek sosial dan budaya sangat mempengaruhi pola kehidupan semua manusia. Dalam era globalisasi dengan berbagai perubahan yang begitu ekstrem pada masa ini menuntut semua manusia harus memperhatikan aspek sosial budaya. Salah satu masalah yang kini banyak merebak di kalangan masyarakat adalah kematian ataupun kesakitan pada ibu dan anak yang sesungguhnya tidak terlepas dari faktor-faktor sosial budaya dan lingkungan di dalam masyarakat dimana mereka berada. Disadari atau tidak, faktor-faktor kepercayaan dan pengetahuan budaya seperti konsepsi-konsepsi mengenai berbagai pantangan, hubungan sebab- akibat antara makanan dan kondisi sehat-sakit, kebiasaan dan ketidaktahuan, seringkali membawa dampak baik positif maupun negatif terhadap kesehatan ibu dan anak. Pola makan, misalnya, pacta dasarnya adalah merupakan salah satu selera manusia dimana peran kebudayaan cukup besar. Hal ini terlihat bahwa setiap daerah mempunyai pola makan tertentu, termasuk pola makan ibu hamil dan anak yang disertai dengan kepercayaan akan pantangan, tabu, dan anjuran terhadap beberapa makanan tertentu.

1.2 Tujuan Makalah
Mengetahui aspek sosial budaya pada setiap perkawinan, trimester kehamilan dan persalinan kala I, II, III dan IV.

1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana aspek sosial budaya pada setiap perkawinan?
2. Bagaimana aspek sosial budaya pada setiap kehamilan?
3. Bagaimana aspek sosial budaya pada trimester kehamilan I, II, III dan IV?

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Aspek sosial budaya pada setiap perkawinan
Berdasarkan pada aspek sosial budaya pola penyesuaian perkawinan dilakukan secara bertahap. Pada fase pertama adalah bulan madu pasangan masih menjalani hidup dengan penuh kebahagian, dan hal itu karena didasari rasa cinta diawal perkawinan. Pada fase pengenalan kenyataan, pasangan mengetahui karakteristik dan kebiasaan yang sebenarnya dari pasangan. Pada fase kedua mulai terjadi krisis perkawinan terjadi proses penyesuaian akan adanya perbedaan yang terjadi. Apabila sukses dalam menerima kenyataan maka akan dilanjutkan dengan suksesnya fase menerima kenyataan. Apabila pasangan sukses mengatasi problema keluarga dengan berapatasi dan membuat aturan dan kesepakatan dalam rumah tangga maka fase kebahagiaan sejati akan diperolehnya.
Menurut aspek sosial budaya faktor pendukung keberhasilan penyesuaian perkawinan mayoritas subjek terletak dalam hal saling memberi dan menerima cinta, ekspresi afeksi, saling menghormati dan menghargai, saling terbuka antara suami istri. Hal tersebut tercermin pada bagaimana pasangan suami istri menjaga kualitas hubungan antar pribadi dan pola-pola perilaku yang dimainkan oleh suami maupun istri, serta kemampuan menghadapi dan menyikapi perbedaan yang muncul, sehingga kebahagiaan dalam hidup berumah tangga akan tercapai.
Sedangkan menurut aspek sosial budaya faktor penghambat yang mempersulit penyesuaian perkawinan mayoritas subjek terletak dalam hal baik suami maupun istri tidak bisa menerima perubahan sifat dan kebiasaan di awal pernikahan, suami maupun istri tidak berinisiatif menyelesaikan masalah, perbedaan budaya dan agama diantara suami dan istri, suami maupun istri tidak tahu peran dan tugasnya dalam rumah tangga. Hal tersebut tercermin pada bagaimana pasangan suami istri menyikapi perubahan, perbedaan, pola penyesuaian yang dimainkan dan munculnya hal-hal baru dalam perkawinan, yang kesemuanya itu dirasa kurang membawa kebahagiaan hidup berumah tangga, sehingga masing- masing pasangan gagal dalam menyesuaikan diri satu sama lain.
2.2 Aspek sosial budaya pada setiap trimester kehamilan
Perawatan kehamilan merupakan salah satu faktor yang amat perlu diperhatikan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian ketika persalinan, disamping itu juga untuk menjaga pertumbuhan dan kesehatan janin. Memahami perilaku perawatan kehamilan (ante natal care) adalah penting untuk mengetahui dampak kesehatan bayi dan si ibu sendiri. Pacta berbagai kalangan masyarakat di Indonesia, masih banyak ibu-ibu yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan kodrati. Mereka merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter. Masih banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. Resiko ini baru diketahui pada saat persalinan yang sering kali karena kasusnya sudah terlambat dapat membawa akibat fatal yaitu kematian. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi. Selain dari kurangnya pengetahuan akan pentingnya perawatan kehamilan, permasalahan-permasalahan pada kehamilan dan persalinan dipengaruhi juga oleh faktor nikah pada usia muda yang masih banyak dijumpai di daerah pedesaan. Disamping itu, dengan masih adanya preferensi terhadap jenis kelamin anak khususnya pada beberapa suku, yang menyebabkan istri mengalami kehamilan yang berturut-turut dalam jangka waktu yang relatif pendek, menyebabkan ibu mempunyai resiko tinggi pacta saat melahirkan.
Permasalahan lain yang cukup besar pengaruhnya pada kehamilan adalah masalah gizi. Hal ini disebabkan karena adanya kepercayaan-kepercayaan dan pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan. Sementara, kegiatan mereka sehari-hari tidak berkurang ditambah lagi dengan pantangan-pantangan terhadap beberapa makanan yang sebenamya sangat dibutuhkan oleh wanita hamil tentunya akan berdampak negatif terhadap kesehatan ibu dan janin. Tidak heran kalau anemia dan kurang gizi pada wanita hamil cukup tinggi terutama di daerah pedesaan. Dikatakan pula bahwa penyebab utama dari tingginya angka anemia pada wanita hamil disebabkan karena kurangnya zat gizi yang dibutuhkan untuk pembentukan darah.
Beberapa kepercayaan yang ada misalnya di Jawa Tengah, ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan telur karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan perdarahan yang banyak. Sementara di salah satu daerah di Jawa Barat, ibu yang kehamilannya memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil dan mudah dilahirkan. Di masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut, udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin. Contoh lain di daerah Subang, ibu hamil pantang makan dengan menggunakan piring yang besar karena khawatir bayinya akan besar sehingga akan mempersulit persalinan. Dan memang, selain ibunya kurang gizi, berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah. Tentunya hal ini sangat mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi. Selain itu, larangan untuk memakan buah-buahan seperti pisang, nenas, ketimun dan lain-lain bagi wanita hamil juga masih dianut oleh beberapa kalangan masyarakat terutama masyarakat di daerah pedesaan. (Wibowo, 1993).
Di daerah pedesaan, kebanyakan ibu hamil masih mempercayai dukun beranak untuk menolong persalinan yang biasanya dilakukan di rumah. Data Survei Kesehatan Rumah Tangga tahun 1992 rnenunjukkan bahwa 65% persalinan ditolong oleh dukun beranak. Beberapa penelitian yang pernah dilakukan mengungkapkan bahwa masih terdapat praktek-praktek persalinan oleh dukun yang dapat membahayakan si ibu. Penelitian Iskandar dkk (1996) menunjukkan beberapa tindakan/praktek yang membawa resiko infeksi seperti "ngolesi" (membasahi vagina dengan rninyak kelapa untuk memperlancar persalinan), "kodok" (memasukkan tangan ke dalam vagina dan uterus untuk rnengeluarkan placenta) atau "nyanda" (setelah persalinan, ibu duduk dengan posisi bersandardan kaki diluruskan ke depan selama berjam-jam yang dapat menyebabkan perdarahan dan pembengkakan).
Pemilihan dukun beranak sebagai penolong persalinan pada dasarnya disebabkan karena beberapa alasan antara lain dikenal secara dekat, biaya murah, mengerti dan dapat membantu dalam upacara adat yang berkaitan dengan kelahiran anak serta merawat ibu dan bayi sampai 40 hari.
Disamping itu juga masih adanya keterbatasan jangkauan pelayanan kesehatan yang ada. Walaupun sudah banyak dukun beranak yang dilatih, namun praktek-praktek tradisional tertentu rnasih dilakukan. lnteraksi antara kondisi kesehatan ibu hamil dengan kemampuan penolong persalinan sangat menentukan hasil persalinan yaitu kematian atau bertahan hidup. Secara medis penyebab klasik kematian ibu akibat melahirkan adalah perdarahan, infeksi dan eklamsia (keracunan kehamilan). Kondisi-kondisi tersebut bila tidak ditangani secara tepat dan profesional dapat berakibat fatal bagi ibu dalam proses persalinan. Namun, kefatalan ini sering terjadi tidak hanya karena penanganan yang kurang baik tepat tetapi juga karena ada faktor keterlambatan pengambilan keputusan dalam keluarga. Umumnya, terutama di daerah pedesaan, keputusan terhadap perawatan medis apa yang akan dipilih harus dengan persetujuan kerabat yang lebih tua; atau keputusan berada di tangan suami yang seringkali menjadi panik melihat keadaan krisis yang terjadi. Kepanikan dan ketidaktahuan akan gejala-gejala tertentu saat persalinan dapat menghambat tindakan yang seharusnya dilakukan dengan cepat. Tidak jarang pula nasehat-nasehat yang diberikan oleh teman atau tetangga mempengaruhi keputusan yang diambil. Keadaan ini seringkali pula diperberat oleh faktor geografis, dimana jarak rumah si ibu dengan tempat pelayanan kesehatan cukup jauh, tidak tersedianya transportasi, atau oleh faktor kendala ekonomi dimana ada anggapan bahwa membawa si ibu ke rumah sakit akan memakan biaya yang mahal. Selain dari faktor keterlambatan dalam pengambilan keputusan, faktor geografis dan kendala ekonomi, keterlambatan mencari pertolongan disebabkan juga oleh adanya suatu keyakinan dan sikap pasrah dari masyarakat bahwa segala sesuatu yang terjadi merupakan takdir yang tak dapat dihindarkan. Selain pada masa hamil, pantangan-pantangan atau anjuran masih diberlakukan juga pada masa pasca persalinan. Pantangan ataupun anjuraan ini biasanya berkaitan dengan proses pemulihan kondisi fisik misalnya, ada makanan tertentu yang sebaiknya dikonsumsi untuk memperbanyak produksi ASI; ada pula makanan tertentu yang dilarang karena dianggap dapat mempengaruhi kesehatan bayi. Secara tradisional, ada praktek-praktek yang dilakukan oleh dukun beranak untuk mengembalikan kondisi fisik dan kesehatan si ibu. Misalnya mengurut perut yang bertujuan untuk mengembalikan rahim ke posisi semula; memasukkan
ramuan-ramuan seperti daun-daunan kedalam vagina dengan maksud untuk membersihkan darah dan cairan yang keluar karena proses persalinan; atau memberi jamu tertentu untuk memperkuat tubuh (Iskandar et al., 1996).
2.3 Aspek sosial budaya selama persalinan kala I, II, III dan IV
Ada suatu kepercayaan yang mengatakan minum rendaman air rumput Fatimah akan merangsang mulas. Memang, rumput Fatimah bisa membuat mulas pada ibu hamil, tapi apa kandungannya belum diteliti secara medis. Jadi, harus dikonsultasikan dulu ke dokter sebelum meminumnya. Soalnya, rumput ini hanya boleh diminum bila pembukaannya sudah mencapai 3-5 cm, letak kepala bayi sudah masuk panggul, mulut rahim sudah lembek atau tipis, dan posisi ubun-ubun kecilnya normal.
Jika letak ari-arinya di bawah atau bayinya sungsang, tak boleh minum rumput ini karena sangat bahaya. Terlebih jika pembukaannya belum ada, tapi si ibu justru dirangsang mulas pakai rumput ini, bisa-bisa janinnya malah naik ke atas dan membuat sesak nafas si ibu. Mau tak mau, akhirnya dilakukan jalan operasi.
Keluarnya lendir semacam keputihan yang agak banyak menjelang persalinan, akan membantu melicinkan saluran kelahiran hingga bayi lebih mudah keluar. Keluarnya cairan keputihan pada usia hamil tua justru tak normal, apalagi disertai gatal, bau, dan berwarna. Jika terjadi, segera konsultasikan ke dokter. Ingat, bayi akan keluar lewat saluran lahir. Jika vagina terinfeksi, bisa mengakibatkan radang selaput mata pada bayi. Harus diketahui pula, yang membuat persalinan lancar bukan keputihan, melainkan air ketuban. Itulah mengapa, bila air ketuban pecah duluan, persalinan jadi seret.
Minum minyak kelapa memudahkan persalinan. Minyak kelapa, memang konotasinya bikin lancar dan licin. Namun dalam dunia kedokteran, minyak tak ada gunanya sama sekali dalam melancarkan keluarnya sang janin. Mungkin secara psikologis, ibu hamil meyakini, dengan minum dua sendok minyak kelapa dapat memperlancar persalinannya.
Minum madu dan telur dapat menambah tenaga untuk persalinan. Madu tidak boleh sembarangan dikonsumsi ibu hamil. Jika BB-nya cukup, sebaiknya jangan minum madu karena bisa mengakibatkan overweight. Bukankah madu termasuk karbonhidrat yang paling tinggi kalorinya. Jadi, madu boleh diminum hanya jika BB-nya kurang. Begitu BB naik dari batas yang ditentukan, sebaiknya segera hentikan. Akan halnya telur tak masalah, karena mengandung protein yang juga menambah kalori.
Makan duren, tape, dan nanas bisa membahayakan persalinan. Ini benar karena bisa mengakibatkan perndarahan atau keguguran. Duren mengandung alkohol, jadi panas ke tubuh. Begitu juga tape. Pun untuk masakan yang menggunakan arak, sebaiknya dihindari. Buah nanas juga, karena bisa mengakibatkan keguguran.
Makan daun kemangi membuat ari-ari lengket, hingga mempersulit persalinan. Yang membuat lengket ari-ari bukan daun kemangi, melainkan ibu yang pernah mengalami dua kali kuret atau punya banyak anak, misal empat anak. Ari-ari lengket bisa berakibat fatal karena kandungan harus diangkat. Ibu yang pernah mengalami kuret sebaiknya melakukan persalinan di RS besar. Hingga, bila terjadi sesuatu dapat ditangani segera.
Sebenarnya, kelancaran persalinan sangat tergantung faktor mental dan fisik si ibu. Faktor fisik berkaitan dengan bentuk panggul yang normal dan seimbang dengan besar bayi. Sedangkan faktor mental berhubungan dengan psikologis ibu, terutama kesiapannya dalam melahirkan. Bila ia takut dan cemas, bisa saja persalinannya jadi tidak lancar hingga harus dioperasi. Ibu dengan mental yang siap bisa mengurangi rasa sakit yang terjadi selama persalinan.
Faktor lain yang juga harus diperhatikan: riwayat kesehatan ibu, apakah pernah menderita diabetes, hipertensi atau sakit lainnya; gizi ibu selama hamil, apakah mencukupi atau tidak; dan lingkungan sekitar, apakah men-support atau tidak karena ada kaitannya dengan emosi ibu. Ibu hamil tak boleh cemas karena akan berpengaruh pada bayinya. Bahkan, berdasarkan penelitian, ibu yang cemas saat hamil bisa melahirkan anak hiperaktif, sulit konsentrasi dalam belajar, kemampuan komunikasi yang kurang, dan tak bisa kerja sama.

BAB 3
KESIMPULAN DAN SARAN
3.1 Kesimpulan
Dari pembahasan sebelumnya dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut:
1. Berdasarkan pada aspek sosial budaya pola penyesuaian perkawinan dilakukan secara bertahap, yaitu fase: bulan madu, pengenalan kenyataan, kemudian mulai terjadi krisis perkawinan. Apabila pasangan sukses mengatasi problema keluarga dengan berapatasi dan membuat aturan dan kesepakatan dalam rumah tangga maka fase kebahagiaan sejati akan diperolehnya.
2. Masih banyak ibu-ibu yang menganggap kehamilan sebagai hal yang biasa, alamiah dan kodrati. Mereka merasa tidak perlu memeriksakan dirinya secara rutin ke bidan ataupun dokter. Masih banyaknya ibu-ibu yang kurang menyadari pentingnya pemeriksaan kehamilan menyebabkan tidak terdeteksinya faktor-faktor resiko tinggi yang mungkin dialami oleh mereka. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya informasi.
3. Kelancaran persalinan sangat tergantung faktor mental dan fisik si ibu. Faktor fisik berkaitan dengan bentuk panggul yang normal dan seimbang dengan besar bayi. Sedangkan faktor mental berhubungan dengan psikologis ibu, terutama kesiapannya dalam melahirkan. Bila ia takut dan cemas, bisa saja persalinannya jadi tidak lancar hingga harus dioperasi. Ibu dengan mental yang siap bisa mengurangi rasa sakit yang terjadi selama persalinan.
3.2 Saran
Saran yang kami berikan untuk para pembaca makalah ini, yaitu: setiap aspek sosial budaya yang melintas atau menjadi dasar bagi pola kehidupan manusia sehari-hari hendaknya dapat disaring, karena tidak setiap aspek sosial budaya yang masuk adalah postif.